Selasa, 11 Desember 2018

Membaca Karya Fiersa

Desember 11, 2018 0 Comments

Namanya Fiersa Besari. Dia lebih suka dipanggil dengan sebutan "Bung". Bung Fiersa adalah seorang penulis asal Bandung yang karya-karyanya sungguh menyenangkan untuk dibaca. Kali pertama, aku berkenalan dengan Garis Waktu. Aku menemukannya tanpa sengaja ketika sedang singgah di Gramedia. Setelah beberapa waktu, terbitlah Konspirasi Alam Semesta. Dilanjutkan dengan Catatan Juang, Arah Langkah, dan 11:11.

1. Garis Waktu


Ketika tanpa sengaja menemukan Garis Waktu, awalnya aku kira novel. Tapi setelah aku baca, ternyata berisi kumpulan pesan yang menarik dengan diksi yang teramat baik. Ternyata Garis Waktu adalah kumpulan dari pemikiran-pemikiran Bung Fiersa yang selama ini berserak di dunia maya, kemudian dikembangkan supaya menjadi menarik untuk dibukukan.

Terima kasih karena telah menuntunku untuk tersenyum ketika beranjak tidur. Jika kata "sayang" terlalu berlebihan untuk memaparkan apa yang aku rasakan, biarkan aku menjadi seseorang yang menjagamu ketika kau rapuh, dan menarikmu turun ketika kau terlalu angkuh. Akan tetapi, jika kata "sayang" tidak berlebihan, maka izinkanlah aku mengucap "aku menyayangimu"...tanpa batas waktu. - (halaman 72)

Iya, cinta bisa menghilang. Lantas, kenapa kakek dan nenek kita bisa bertahan hidup berdua sampai mereka meninggal? Karena saat cinta menghilang, mereka punya sesuatu yang disebut kasih sayang, keterbiasaan, empati, dan tentu saja komunikasi. "Hidup akan baik-baik saja selama kita memiliki kita." - (halaman 84)

Teruntukmu seseorang di kejauhan, tak usah khawatir. Jarak terjauh kita adalah "waktu". Tabungan terindah kita adalah "rindu". Langkah ini akan tertuju padamu; hingga aku utuh menjadi milikmu. - (halaman 111)

2. Konspirasi Alam Semesta


Judul yang sangat menarik. Dari situlah aku penasaran sebenarnya buku ini menceritakan tentang apa. Aku baru tahu kalau ternyata ada penulis yang merilis album buku atau bisa disingkat albuk. Albuk yang oleh penulisnya sendiri juga dikenalkan dengan sebutan Kolase (singkatan dari Konspirasi Alam Semesta) ini mengagumkan. Buku ini rilis satu paket dengan album Fiersa Besari yang lagu-lagunya bisa didapat dengan cara me-scan QR code yang ada di postcard-nya (yang juga satu paket, terselip di dalam buku). Membaca sembari mendengarkan lagu-lagunya sangat menyenangkan. Jadi terbawa suasana. Kadang-kadang juga dibuat baper, entah karena imajinasiku yang terlalu liar, atau memang Bung Fiersa yang sangat piawai membuat para pembacanya memainkan imajinasi. Memang cerita fiksi. Tapi membaca buku ini membuatku banyak belajar tentang hidup. Tetang kesabaran, keyakinan, kemanusiaan, perjuangan, dan rindu.

Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. - (halaman 20)

Aku memilih untuk berani membuatmu bahagia karena terlalu takut melihatmu menangis. Aku memilih untuk berani berdiri di atas lutut sendiri karena terlalu takut melihatmu pergi. Aku memilih untuk berani mendampingimu karena terlalu takut hidup tanpamu. Aku memilih untuk berani memperjuangkanmu karena terlalu takut kehilanganmu. - (halaman 157)

Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba. Kamu keras kepala, aku juga. Dan menjadi dua orang keras kepala yang mempertahankan mati-matian sebuah hubungan adalah hal yang menyenangkan. Sejak itu, hatiku genap. - (halaman 176)

Setelah membaca Konspirasi Alam Semesta, ada baiknya membaca Catatan Juang juga. Atau dibalik pun tidak masalah. Catatan Juang dulu, baru Konspirasi Alam Semesta. Karena cerita dalam dua buku itu masih saling berhubungan.

3. Catatan Juang


Catatan Juang bisa aku sebut sebagai catatan ajaib untuk seorang tokoh utamanya. Catatan yang turut andil dalam mengubah pola pikir, dan seolah-olah mengerti apa yang sedang dirasakan dan dialami oleh tokoh utamanya. Ada pesan, motivasi, dan inspirasi yang bisa membuat tokoh utamanya berpikir, merenung, kemudian bangkit untuk memperbaiki apa yang menurutnya kacau.

Kita seringkali melihat, namun tidak menyimak; mendengar, namun tidak memperhatikan; mangabadikan, namun tidak menikmati. Padahal, sebuah kenangan akan tercipta jika kita hadir secara utuh tanpa sibuk memikirkan akan posting foto dan video keindahan apa di media sosial. - (halaman 74-75)

Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri. Komitmen berarti mengikat dua orang yang memiliki masa lalu berbeda untuk visi dan misi yang sama. - (halaman 84)

Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang lain mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah. - (halaman 198)

Mengejar bayangan memaksamu mengempaskan seseorang yang memelukmu erat. atas nama "khilaf", kau korbankan segala cerita yang pernah terjalin dengan seseorang yang menyayangimu. Lantas, saat ketahuan, kau meminta maaf sejadi-jadinya. Kalau tidak ketahuan, tidak minta maaf? Kadang, kita terlalu dungu untuk melihat bahwa kebahagiaan sesungguhnya sudah ada dalam genggaman. Kadang, kita memilih untuk melemparkan apa yang sudah kita genggam demi menggapai nafsu sesaat. Jangan lupa, bayangan hanya hadir di kala terang. Dan akan hilang di kala gelap. Namun, seseorang yang menyayangimu takkan pernah pergi segelap apa pun harimu. - (halaman 248)

 4. Arah Langkah


Berbeda dengan buku sebelumnya, Arah Langkah menceritakan bagaimana perjalanan Bung Fiersa ketika berkelana. Membaca buku ini membuatku seolah ikut menyusuri indahnya Nusantara, dengan berbagai daya tarik dan kearifan lokalnya. Di dalam buku ini Bung menceritakan pengalaman-pengalaman seru ketika betualang bersama dua sahabatnya. Di awal cerita, Bung menyisipkan kisah cinta dengan masa lalunya yang sungguh drama, tapi ternyata benar adanya, yang akhirnya membuat Bung memutuskan untuk berkelana.

Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia yang menjadikannya mengeja. - (halaman 32)

Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. - (halaman 66)

Ketika tinta pengkhianatan tumpah di atas aksara kisah, tulisan tentang kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Tak pernah lagi bisa. - (halaman 69)

... hidup ini menyenangkan kalau kita lihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap. - (halaman 207)

Karena perpisahan, semanis apa pun,  seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan. - (halaman 292)

5. 11:11


Sama seperti judulnya, buku ini mulai beredar di pasaran pada tanggal 11 bulan 11 (November) dengan 11 cerita di dalamnya. Sama juga seperti Konspirasi Alam Semesta, ini adalah albuk (album buku) kedua dari Fiersa Besari. Bedanya, bagian-bagian dalam albuk kedua ini tidak saling berkaitan. Satu bagian, satu cerita. Kalau bahasa umumnya, mungkin bisa disebut sebagai kumpulan cerpen. 

Ada dua bagian yang pesan tersiratnya sangat menarik menurutku:
Home adalah bagian yang paling aku suka. Sekeras apa pun bekerja, segiat apa pun berusaha, uang dan keluarga tidak akan pernah bisa sejajar. Uang masih bisa dicari, tapi waktu bersama keluarga adalah bahagia yang tak bisa ditukar dengan barang semahal apa pun. Kalau kata cerita zaman dulu: Harta yang paling berharga...adalah keluarga...~ *autonyanyi :D

Lainnya yang aku suka adalah Melangkah Tanpamu. Terkadang, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, tapi memang untuk menjadi kenangan. Setelah apa dan dengan siapa pernah mengukir kisah dalam hidup ini, pasti akan ada satu orang yang benar-benar berarti dan sulit menghilang dari ingatan.
Kata penulisnya disampul belakang buku ini: "Orang bilang, jodoh takkan ke mana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan kemana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi."

--------------------------------------------------------------------------------
Baru kali ini aku mengidolakan penulis sampai sebegitunya. Tapi bukan hanya tulisan Bung Fiersa yang membuatku jatuh cinta. Aku mengagumi pemikirannya, tulisannya, musiknya, fotografinya, jurnalnya. Menurutku, dia seperti paket lengkap. Karena apa yang menjadi objek menarik buatku, ada di Fiersa Besari semua: buku/tulisan, musik, dan fotografi.
Bersyukur, mimpiku untuk bisa bertemu, mendengarkan cerita dan suaranya ketika bernyanyi secara langsung, menyapa, dan berdiri di sebelahnya, akhirnya tercapai di 19 September 2018.

Bung Fiersa sedang bercerita.
Bung Fiersa sedang menyanyikan lagu Kala.
Akhirnya, berhasil "nodong" tanda tangan.
Dan bertemu (sebagian) Kerabat Kerja.
*kawan-kawan Bung Fiersa dalam bermusik*

Minggu, 09 Desember 2018

Pencarian Skincare

Desember 09, 2018 0 Comments
picture from google

Hai, sisters! Aku pengen cerita aja nih gimana pengalaman aku sampai akhirnya bisa ketemu produk skincare yang cocok sama kulit aku. Aku bukan beauty blogger, apalagi pakar kecantikan. Sampai saat ini, aku belum pernah ke dokter/klinik kecantikan mana pun. Disini aku cuma mau berbagi cerita aja gimana akhirnya bisa ketemu skincare yang cocok dengan cara otodidak. Disclaimer: semua yang aku tulis disini berdasarkan pengalaman pribadi aku ya, sama sekali nggak bermaksud untuk menjatuhkan produk atau brand mana pun. Apa yang cocok di kulit aku belum tentu cocok di kulit kalian. Begitu juga sebaliknya. Karena setiap orang punya jenis dan sensitifitas kulit yang berbeda-beda.

Pencarian skincare bermula pas aku SMA. Maklum lah ya namanya abege kan, kalo ngelihat temennya bening dikit tu rasanya iri dan pengen bisa kek dia juga. Dulu kulit aku tu kusam banget, dekil dah, tapi untungnya nggak jerawatan karena emang kebetulan kulitku termasuk jenis kulit yang cenderung kering. Kalopun jerawatan ya karena hormonal, pas mau atau lagi "dapet". Jadilah akhirnya nanya sana-sini ke temen-temen aku yang menurutku bersih dan bening lah mukanya. Muka yang nggak ada masalah gitu deh kira-kira. Ada yang nyaranin buat pake ini pake itu, terus ada juga temenku yang ke dokter/klinik kecantikan gitu.

Dalam hati pengen gitu ya ikut-ikutan ke dokter/klinik kecantikan biar aku beningan dikit. Terus pas bilang ke mama aku, katanya "Nggak usah. Kulitmu tu nggak kenapa-napa. Nanti malah jadi rusak kalo aneh-aneh ke dokter/klinik kecantikan segala.". Karena kalo mau ke dokter/klinik kecantikan juga duitnya kudu minta ke mama aku, jadi yaudah lah ya nurut aja. Dan mauku emang nggak yang kudu (tiba-tiba) jadi putih mukanya, tapi yang penting bersih dulu, putih itu efek samping yang positif atau semacem bonus lah.

Nah, selama masa pencarian itu, berikut produk-produk yang pernah aku coba.

1. Sariayu
picture from google

Kenapa Sariayu? Karena mama aku yang menyarankan. Katanya dari dulu mama aku cocok banget pakai Sariayu. Kalau mamanya cocok, biasanya anaknya juga cocok. Jadi yaudah lah aku nurut aja nyoba pakai Sariayu. Pernah nyobain facial wash-nya yang putih langsat, pelembab sama penyegar yang varian mawar, sama pernah juga nyobain pembersih White Aromatic yang warna hijau (kemasannya kek botol pipih gitu). Dulu aku belum ngerti cocok atau nggak cocoknya sama skincare itu kek gimana. Nggak tau kenapa, abis pakai pelembabnya, kulitku kek berasa berair, keringetan gitu. Waktu itu aku mikirnya mungkin emang cuacanya lagi panas aja. Aku lanjutin pakai itu. Setelah beberapa waktu gitu, aku berasa tetep aja keringetan padahal cuacanya biasa aja, nggak lagi panas juga. Masih positive thinking tuh, mungkin karena Sariayu ini bahan dasarnya banyakan mengandung air. Masih aku lanjutin pakai. Tapi lama-lama aku jadi berasa nggak nyaman. Yakali tiap pakai itu keringetan, padahal kalo mama aku yang pakai tu biasa aja, nggak yang sebasah kek kalo aku yang pakai. Kalau buat facial wash sama pembersih white aromatic-nya kayaknya nggak ada masalah, tapi nggak memperlihatkan efek apa-apa juga di kulit aku. Jadi aku memutuskan untuk mencoba produk dari brand lain, kali aja cocok yekan.


2. Biore
picture from google

Kalo nggak salah inget, ini facial wash yang aku coba setelah ngerasa nggak cocok sama Sariayu. Pas pakai ini rasanya ya seger gitu, berasa bersih. Nggak berasa perih, iritasi atau yang gimana-gimana. Setahu aku, waktu itu biore baru ada facial wash aja buat produk skincare-nya. Atau aku yang belum nemu ya? Nggak tau deh. Tapi yang aku pakai ya cuma ini. Lupa sih varian yang mana, kalo nggak salah sih pernah nyoba yang abu-abu. Cukup lama aku pakai itu, beberapa bulan lah. Dalam beberapa bulan pemakaian, baru ngeh kok kek nggak ada perubahan apa-apa di kulit aku. Kek sama aja sama sebelum pakai ini. Akhirnya aku coba beralih ke yang lain, yang (katanya) emang buat kulit yang masih usia-usia remaja gitu. Lalu iseng lah nyoba Clean & Clear.


3. Clean & Clear
picture from google

Ada temen aku yang cocok pakai ini. Jadilah aku nyoba juga. Aku lupa waktu itu nyoba pakai yang varian/series mana. Udah dari zaman SMA soalnya, udah lama banget. Waktu itu aku pede banget dan langsung beli facial wash, toner, sama moisturizer nya. Pas pertama pakai, rasanya kek agak panas gitu. Aku pikir kan mungkin karena kulitku masih butuh adaptasi kali ya. Jadinya yaudah aku terusin aja. Sampai kemudian kurang lebih semingguan pakai ini, pas bercermin gitu aku perhatiin kok ada yang nggak beres sama kulit aku. Jadi kek ada kerutan dan perih, kek kebakar gitu. Akhirnya yaudah aku stop pemakaian daripada kenapa-napa. Dan daripada produknya kebuang percuma, akhirnya ku kasih ke temen aku yang emang cocok pakai Clean & Clear. Dan aku kembali lagi ke biore karena nggak tau mau ganti apa, dan ngerasa aman aja pakai Biore ya meskipun nggak ngefek apa-apa juga di kulit aku.


4. Garnier
picture from google

Keluarlah produk baru, Garnier. Dulu waktu awal banget, setahu aku Garnier baru ada facial wash yang lemon, kemasannya warna kuning tapi aku lupa detail keterangan yang ada di kemasannya gimana. Judul detail produknya apaan aku lupa. Karena dulu nyarinya yang ada kek semacem whitening atau brightening-nya gitu, dan nggak begitu ngeh sama jenis kulit sendiri, jadi aku beli lah. Penasaran. Pas lagi cuci muka pakai itu rasanya enak banget sis, seger gitu, aromanya lemon dan aku suka banget. Tapi setelah beberapa saat cuci muka, jadi kek berasa kering. Bukan berasa sih, ya emang kering. Di sekitar bibirku tu jadi kek putih-putih gitu loh, kek pucet gitu. Jadi aku harus balik lagi buat membasuh muka ini pakai air. Air aja. Ribet yekan abis cuci muka kudu basuh pakai air lagi. Tapi begonya masih aja aku lanjutin, sampai setengah. Ya iya, sayang udah kebeli masak nggak kepakai. Wkwk bodoh.


5. Pond's White Beauty
picture from google

Lelah dengan kulit yang semakin kering setelah pakai Garnier, kemudian beralihlah aku ke Pond's yang White Beauty Series. Waktu itu entah kenapa pengen yang ada whitening-nya. Biar sekalian, jadi bersih terus rada putihan juga gitu. Haha. Awalnya aku baru nyoba facial wash sama day cream-nya. Seminggu kemudian, karena katanya kalo pengen hasilnya maksimal itu kudu pakai satu rangkaian, jadinya aku beli pelengkapnya: cleanser, toner, sama night cream-nya. Aku pakai Pond's White Beauty Series ini cukup lama. Ada kali ya setahunan lebih. Sampai suatu ketika aku baru merhatiin, kalau pas lagi keringetan gitu ternyata ada spot yang tiba-tiba jadi kelihatan putih banget. Jadi kek day cream-nya itu berasa nggak bisa nyatu sama kulit. Nggak mau menyerap ke kulit gitu. Terus aku tanya kan tuh ke temen aku, kenapa ya kalau pakai day cream-nya tu kek nggak bisa nyatu ke kulit, berasa berat dan berasa banget kalau pakai day cream. Dia bilang, bisa jadi itu karena kulitku nggak cocok sama produknya. Terus aku mikir, masak iya? Soalnya kan aku udah pakai itu lama banget.


6. Wardah Lightening Series
picture from google

Setelah aku mendengar ada brand Wardah, aku browsing nyari-nyari dulu di internet sebelum beli. Dengan segala ke-soktahu-an ku, akhirnya aku memutuskan untuk beralih dari Pond's White Beauty ke Wardah Lightening Series, dengan alasan ya itu tadi: kalo cream-nya nggak bisa nyatu sama kulit, bisa jadi itu karena nggak cocok. Pas mau beli, aku baru tahu kalau ternyata ada step 1 sama step 2. Karena baru mau pakai, logikanya berarti aku harus mulai dari step 1 dulu dong. Seperti biasa, yang pertama kali aku beli pasti facial wash-nya. Abis itu aku beli day cream sama night cream-nya. Lagi-lagi, karena aku percaya kalo mau hasil maksimal harus pakai satu rangkaian, jadi aku nyicil beli sampai dapet satu rangkaian: facial wash, day cream, night cream, cleanser, toner,  facial scrub, facial mask, facial serum. Tapi aku merasa ada something wrong sama night cream-nya. Pas bangun tidur paginya gitu di sekitar area mataku berasa agak panas.
Kebetulan pas itu aku punya kontak BBM salah satu entah agen entah distributor entah konsultan atau apanya Wardah, aku dapet dari ig kalo nggak salah (sekarang udah ilang kontaknya, udah nggak main BBM lagi soalnya). Terus aku tanya kenapa bisa gitu. Katanya kalo pakai night cream itu tipis-tipis aja, hindari daerah sekitar mata dan membran mukosa lainnya. Sebenernya (kalo nggak salah) itu tertulis di belakang kemasannya. Tapi emang dasarnya mikirnya biar putihnya rata gitu, jadi kelopak mata pun aku kasih. Wkwk sok tahu, bodoh. Ya sudah, aku turuti apa kata mbaknya. Beneran dong, abis gitu mata aku tidak kenapa-napa. Hahaha sumpah kocak bat.

Lalu, aku baru kepikiran buat nanya ke mbaknya, sebenernya kulitku ini jenis kulit apa: normal, berminyak, kering, apa kombinasi? Padahal udah pakai facial wash, day cream, sama night cream-nya berbulan-bulan. Hahaha duduls. Curhat lah aku ke mbaknya, aku ceritain apa yang aku rasakan dengan kulit mukaku selama ini. Kata mbaknya, kulitku termasuk jenis kulit normal cenderung kering. Terus disaranin pakai yang Wardah Hydrating Series. Tapi karena aku udah nyaman dan berasa cocok pakai Wardah Lightening Series, jadi aku bilang lah ke mbaknya, dan muncul pertanyaan selanjutnya: Kapan aku bisa naik ke step 2? Aku tanya lagi lah ke mbaknya. Katanya bisa naik ke step 2 dalam interval kurang lebih setelah 6 bulan sampai dengan 1 tahun pemakaian step 1.
Akhirnya setelah setahun pemakaian, aku putuskan untuk naik ke step 2. Beli rangkaian step 2 nya juga nggak langsung semuanya. Kalo produk dari step 1 masih ada, ya aku abisin dulu sembari nyicil beli yang step 2. Alhamdulillah aman sis. Dan aku lanjutkan pakai step 2 sampai hampir dua tahun, sampai masa awal-awal aku masuk kerja.


7. Wardah White Secret Series
picture from google
picture from google

Selama pakai Wardah Lightening Series, terus aku bertanya-tanya nih. Abis step 2, bisa lanjutnya ke series apa ya? Masak udah aja gitu di step 2 seterusnya? Suatu hari pas aku ke drugstore gitu, aku iseng nanya ke mbak yang jaga counter Wardah-nya. Katanya kalo mau next step ya paling ke White Secret Series. Pulang dari situ, aku pikir-pikir. Ganti ke White Secret nggak ya? Tapi kok mahal :( . Pas itu emang aku masih mikir, karena kalo mau beli serangkaian sekaligus, mahal belum ada duit. Jadi aku putuskan buat beli White Secret Series yang facial wash sama cleanser-nya dulu. Alhamdulillah langsung jatuh cinta. Sukak! Akhirnya pas udah gajian aku beli pelengkapnya: toner, day cream, night cream, essense (yang buat malam sebelum pakai night cream). Sampai akhirnya aku tahu ada produk pelengkapnya yang lain, jadi lah sekarang lengkap aku pakai satu rangkaian White Secret Series, plus tambahan pakai Emina Face Toner sama Wardah Hydrating Aloe Vera gel.

Jadi, kesimpulannya daily skincare aku sekarang :

Pagi:
1. Pure Brightening Cleanser
2. Facial Wash with Natural AHA
3. Double the Moist Face Toner (Emina)
4. Pure Treatment Essence
5. Hydrating Aloe Vera Gel
6. Day Cream SPF 35, PA+++
Baru lanjut pakai make-up.

Malam:
1. Pure Brightening Cleanser
2. Facial Wash with Natural AHA
3. Double the Moist Face Toner (Emina)
4. Exfoliating Lotion (opsional: 1x seminggu)
5. Exfoliating Scrub (opsional: 1x seminggu)
6. Intense Brightening Essence
7. Night Cream

*Skincare Tambahan + Lipcare:
1. Emina Green Tea Latte Face Mask
2. Sheet Mask (dari brand apa pun)
3. Innisfree Jeju Volcanic Color Clay Mask
4. Nature Republic Aloe Vera 92% Shooting Gel Mist
5. Evian Natural Mineral Water Facial Spray
6. Wardah Acnederm Acne Spot Treatment Gel
7. Biore Pore Pack
8. Laneige Lip Sleeping Mask

Sekian cerita tentang skincare kali ini. Intinya, aku learning by doing aja sampai akhirnya nemu yang cocok. Semoga bermanfaat, ya, sisters. :)

Kamis, 06 Desember 2018

Sesi Curhat #4

Desember 06, 2018 0 Comments
picture from Google

Bicara soal menikah dan pernikahan emang nggak ada abisnya. Apalagi di umur angkatan gue yang emang udah mulai banyak yang sebar undangan. Setiap kali gue share atau repost bacaan yang berkaitan sama pernikahan, pasti ada pertanyaan/pernyataan :
"jadi kapan nikahnya?"
atau
"wah kayaknya udah siap nih?"
atau
"jangan lupa undangannya ya."

Btw makasih atas doa dan motivasinya, ya. Tapi sejujurnya, makin kesini gue jadi makin woles. Se-dikasihnya Allah SWT aja waktunya kapan dan sama siapa. Daripada baper dan capek mikirin nikah mulu yekan? Gue dulu pernah menargetkan mau nikah umur berapa. Tapi ternyata target gue emang perlu direvisi dan nunggu "persetujuan" dari Allah SWT. Manusia bisa berencana, tapi ketetapan terindah itu dari-Nya.

Gue jadi makin woles kapan nikahnya dan sama siapanya, karena seiring berjalannya waktu gue sadar kalau segala hal itu ada waktunya, ada waktu yang tepat. Dan gue semakin sadar kalau pernikahan itu bukan hal yang main-main. Sebelum memutuskan menikah, gue harus pastiin dulu kalau gue-nya sreg dan orang tua merestui. Kalau gue sreg tapi orang tua nggak merestui, ya gue nggak berani lanjut ke pernikahan. Kalau orang tua gue merestui tapi gue-nya nggak sreg, ya gue pikir-pikir dulu. Karena yang akan hidup seterusnya sama dia itu gue, bukan orang tua gue. Gue akan jadi tanggung jawabnya dia. Kalau gue-nya udah nggak sreg duluan, takutnya pas udah nikah nanti malah gue jadi beban buat dia dan nggak mau mengindahkan nasihat dia gitu.

Pernikahan itu bukan "ajang pelarian" yang katanya pengen bahagia selamanya sama seseorang yang disayang, yang capek sama kuliah/sekolah terus katanya mau nikah aja biar bahagia. Kata orang tua gue, kehidupan setelah menikah itu lebih kompleks. Tanggung jawabnya lebih banyak karena yang dipikirin nggak cuma soal diri sendiri.

Bagi seorang laki-laki, siap menikah berarti siap untuk mengambil alih tanggung jawab ayah si perempuan yang dinikahinya. Sandang, pangan, papan. Gimana dulunya si ayah itu membesarkan putrinya, mencukupi kebutuhan putrinya, berjuang demi kebahagiaan putrinya, itu semua akan berpindah dan menjadi tanggung jawab suami dari anak perempuannya.

Jadi, yang udah siap nikah dan udah ketemu waktunya, ya menikahlah. Yang masih pengen melanjutkan hidup sendiri, lanjutkanlah. Itu pilihan. Setiap orang, setiap pasangan, punya ceritanya masing-masing.
Setiap pasangan pasti punya konflik. Beda-beda. Bahagia atau enggaknya, capek atau enggaknya, semua tergantung gimana cara pasangan itu menyikapi, berdiskusi, dan menjalankan solusi. 

Selasa, 21 Agustus 2018

Anak Kecil

Agustus 21, 2018 0 Comments
Banyak yang bilang kalau hidup itu pilihan. Pilihan tentang pekerjaan, pilihan tentang apa yang akan dilakukan, pilihan tentang pasangan, pilihan tentang hobi, selera, termasuk pilihan untuk bersikap. Lingkungan acap kali memiliki peran untuk itu. Tanpa sadar, keadaan sekitar memaksa seseorang untuk menentukan pilihan.
Begini misalnya. Memilih untuk (belajar) menjadi dewasa dan mandiri ketika hidup jauh dari orang tua, sendirian tanpa pengawasan. Kemudian memilih untuk menjadi seperti anak kecil ketika kembali ke rumah. Mengapa? Karena konon katanya, orang tua akan selalu menganggap dan memperlakukan anaknya layaknya anak kecil, akan selalu khawatir dengan anaknya. Sampai kapan pun. Meski si anak sudah dewasa dan melalang buana kemana-mana. Meski dengan cara dan porsi yang berbeda. Jadi yasudah, sekalian saja. Manfaatkan. Selama masih bisa bebas untuk bermanja dan "menjadi" anak kecil, sebelum mengikuti jejak mereka menjadi orang tua. Yekan?
Misalnya lagi begini. Selama hidup dan tinggal bersama orang tua, tidak semua orang tua mau dan mampu mengerti apa yang benar-benar menjadi mimpi si anak. Seringkali mengarahkan pada sesuatu yang mereka anggap baik, dengan (mungkin agak) mengesampingkan apa yang dimaui  dan diminati anaknya sendiri. Memang maksud mereka baik, agar si anak memiliki masa depan yang cerah. Menurutnya. Maka tak jarang orang tua ingin sekali melihat anaknya sukses dengan standar yang diciptakan menurut pandangan (kebanyakan) orang. Padahal (menurutku yang sedang ingin ngoceh ini), sukses adalah ketika seseorang punya mimpi, punya target, kemudian tahu bagaimana caranya mewujudkan mimpi dan mencapai target itu.
Sukses bukan soal materi. Tapi ketenteraman hati juga perlu dimengerti. Terkadang memilih untuk tidak berdiplomasi akan lebih baik untuk menghormati dan menghargai perasaan orang tua, memilih memegang tanggung jawab moral akan lebih memunculkan rasa untuk berbakti. Dan memilih kembali menjadi anak kecil memang membahagiakan.

Sekian.
[Pict from Google]

Jumat, 20 Juli 2018

Apa Pendapatmu tentang LDM?

Juli 20, 2018 0 Comments
Long Distance Marriage (LDM) atau hubungan jarak jauh pada pernikahan. Si suami di kota mana, si istri di mana. Sebuah hubungan yang (katanya) kurang atau bahkan tidak ideal. Mungkin sebagian besar orang kurang berkenan, tapi mungkin juga banyak yang tetap berjuang untuk hubungan semacam ini. Pasti banyak pendapat, banyak pandangan. Apa pendapat mereka tentang LDM? Ada beragam pendapat yang pernah aku baca dan aku dengar. Ada yang bilang kira-kira seperti ini:
Gak kuat.
atau
Karena yang jarang bertemu, lebih banyak menyimpan rindu.
atau
Big NO for me!
atau
Selama itu sementara dan ada kemungkinan untuk bersatu (dalam satu atap) dalam waktu dekat, it's bearable.
atau
Sejujurnya aku ragu untuk menjalankan LDM. Kalau dilihat dari luar sepertinya susah. Mungkin LDR dan LDM akan berbeda rasanya, rindunya, cost-nya, dan sedihnya. Tapi kalau masih bisa dijangkau dan hanya sebentar (at least sekitar satu sampai dua tahun) it's OK.
atau
Yakali udah nikah, berumah tangga tapi jauh-jauhan. Nanti anakku gimana? Pasti gak keurus.
atau
Kalau kita dan suami emang enjoy buat LDM sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, terus ada yang bilang "kasihan anaknya", lah kan kita yang ngejalanin.
atau
Halah udah nikah tapi jauh-jauhan itu ngabisin duit doang.
atau
Nikah tapi jauh-jauhan itu susah.
dan pendapat-pendapat lain yang serupa.

Lalu apa pendapatku tentang ini?
Aku sebenernya netral netral memihak sih wkwkw enggak ding bercanda. Kalau aku sih mencoba untuk memandangnya dari perspektif yang lebih luas. Open minded aja. Nggak semua yang hidup dalam satu atap itu pasti menyenangkan dan nggak semua LDM akan berakhir menyedihkan. Aku menghargai pendapat orang yang mengatakan LDM itu susah, atau LDM itu tidak susah. Semua tergantung yang menjalani hubungan itu. Kebetulan aku berada di lingkungan yang kehidupan rumah tangga orang-orangnya beragam. Mereka yang serumah dan mereka yang LDM. Ada beberapa yang awalnya LDR kemudian memutuskan untuk menikah dan menjalani LDM beda pulau. Ada yang semasa mudanya dulu menjalani LDM beda pulau, sampai akhirnya disatukan dalam satu rumah dan tetap utuh sampai punya anak cucu. Ada yang si suami dimana, si istri dimana, si anak dimana, beda kota semua. Ketemunya paling kalau pas libur. Ada yang si suami kerja dimana, si istri kerja dimana, kemudian anaknya di daycare atau sama baby sitter. Banyak. Ada yang si suami aja yang kerja/cari nafkah, si istri di rumah. Ya itu pilihan sih. Dan mereka tetap baik-baik saja. Gimana cara mereka untuk menjalani dan berjuang, ya kita nggak tahu. Itu cerita rumah tangga masing-masing pasangan.

Sama aja kayak: istri kerja (kantoran) atau enggak?
Memang (katanya) istri sebaiknya lebih fokus untuk mengurus rumah, suami, dan anak. Cukup suami yang kerja cari nafkah karena ya memang berkewajiban untuk menafkahi. Pernah suatu ketika aku mendengar ada yang bilang:
Kok rasanya sedih melihat ibu yang memilih menitipkan anaknya di tempat penitipan anak, demi kerja dan mengumpulkan pundi-pundi Rupiah. Kok tega ninggalin anaknya demi cari uang dari pagi sampai sore bahkan kadang-kadang sampai malam.

Lalu apa pendapatku tentang istri kerja (kantoran) atau enggak?
Jujur sebenernya aku sedih mendengar itu. Tapi aku juga tidak menyalahkan mereka yang berpendapat seperti itu. Menurutku, istri kerja (kantoran) atau nggak sih nggak ada yang salah. Kalau si suami tidak mengizinkan istri ngantor dan si istri menerima itu, ya silahkan. Kalau si suami ingin istrinya nggak ngantor tapi si istri maunya ngantor buat bantu-bantu untuk mencukupi kebutuhan, ya kompromikan. Kalau si suami sama sekali tidak keberatan istrinya ngantor, ya nggak ada salahnya kalau bikin kesepakatan untuk urusan rumah. Jadi ya tergantung gimana berdiskusi dan bersepakatnya aja. Ya memang perlu pengorbanan dan saling pengertian.

Menurutku, sebaiknya kita tidak "memvonis" orang lain dengan ukuran atau standar yang (katanya) ideal di mata banyak orang. Sebenernya standar ideal itu apa? Apakah ketika dipandang ideal lantas tidak akan ada masalah? Setiap orang punya tipe idealnya masing-masing. Setiap manusia punya track-nya masing-masing. Pun setiap pasangan punya cerita dan cara masing-masing. Allah SWT punya skenario unik untuk setiap manusia. Kalau niatnya mau kasih nasihat demi kebaikan yang bersangkutan, sampaikan dengan bahasa yang enak didengar, enak dibaca. Jangan men-judge karena berpikir pendapat kita yang paling benar. Silahkan memberi masukan. Kalau urusan pilihan, kembali lagi ke yang menjalankan. Semua itu tentang pilihan. Setiap pilihan akan ada konsekuensinya.


Sabtu, 14 Juli 2018

Senja

Juli 14, 2018 0 Comments
Senja yang selalu memukau. Dan rindu yang tak pernah selesai.
Hai kamu, boleh bawa aku tuk menikmati senja berdua? Nanti.

Senja akan lebih indah bila ku menikmatinya bersama dengan senyummu. Senyummu yang menciptakan rindu karena tidak pernah tidak semanis itu. Dan jarak mengajarkanku untuk bisa menghargai waktumu. Selamat sore, kamu. Semoga sehat dan bahagia selalu.

Kopi

Juli 14, 2018 0 Comments

Kopilih aku dengan sepenuh hati.
(Makasih ya)

Kopilih aku daripada dia.
(Ha!☺)

Kopintar sekali mencuri hati ini.
(Jangan curi-curi lah Mas. Terus terang aja biar terang terus. *Lah malah ngiklan)

Kopinta aku untuk menjadi pendamping hidupmu?
(Ah aku gak mau kalo cuma bercanda Mas)


--------------------
Kopi. Sak-enak-enak-e kopi,
sik luwih enak ndelok esemmu Mas.
(artinya: Seenak-enaknya kopi, masih lebih enak melihat senyummu Mas)
--------------------

Rabu, 04 Juli 2018

Garis Waktu dari Bung Fiersa

Juli 04, 2018 0 Comments

Mediakita menerbitkan buku pertama karya Fiersa Besari, Garis Waktu. Garis Waktu mulanya merupakan kumpulan tulisan yang terpecah dan tersebar di media sosial Bung Fiersa selama beberapa tahun silam, yang kemudian dikumpulkan kembali dan dibukukan. Banyak pesan menarik, pesan-pesan baik yang ada dalam buku ini. Aku jatuh cinta pada diksi yang Bung tuliskan. Menginspirasi, memainkan emosi. Rasanya semua pesan yang tertulis di buku ini penting, sampai aku tak bisa memilih mana satu pesan yang paling aku suka. Semuanya bagus. Mengagumkan. Baru membaca sepenggal tulisan yang ada di sampul belakang buku ini saja aku sudah tertarik.

--------------------
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang
mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan
pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada
titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari
melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu
yang menyakitimu secara perlahan.
--------------------

Begitulah yang Fiersa Besari tuliskan pada sampul belakang buku pertamanya ini.

Pada suatu wawancara, Bung pernah mengatakan,
"Berkarya itu bukan dimulai dengan kita pengen kelihatan bagus depan orang lain. Tapi kita pengen menuangkan sesuatu untuk diri kita sendiri dulu aja gitu."
Dan (menurutku) Bung Fiersa membuktikan dan melakukan itu. Tulisan yang awalnya hanya kalimat pendek yang terpecah-pecah di media sosial, yang Bung tulis karena ingin menulis untuk dirinya sendiri, diminati oleh orang-orang di dunia maya, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati para pembaca.

Ada satu kalimat penutup di salah satu chapter-nya yang begitu manis, yang mengingatkan kita untuk tidak perlu bersedih terlalu lama. Akan ada hal indah yang menghampiri setelah kita terpuruk. Pesan itu ada di Garis Waktu.

"Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamanmu
saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong
dan digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu."
- Fiersa Besari -

Selasa, 03 Juli 2018

Mudik Eksklusif

Juli 03, 2018 0 Comments
Tiga bulan menjelang lebaran, seperti biasa, saatnya hunting tiket. Berebut tiket dari tengah malam pukul 00.00 WIB. Bisa dapat, bisa jadi kurang beruntung. Sepertinya butuh skill khusus untuk bisa mendapatkan tiket mudik yang pasti dicari oleh semua masyarakat. Bisa dibilang kereta api adalah moda transportasi favorit para pemudik, khususnya yang ada di Pulau jawa.
Kebetulan, mudik lebaran kali ini aku mendapat tiket kereta yang berbeda dari biasanya. Luar biasa. Bukan lagi ekonomi yang biasa aku naiki, bukan juga eksekutif pada umumnya. Priority Class. Ya. Gerbong yang (katanya) biasa digunakan oleh orang-orang penting, termasuk para pejabat di negeri ini. Terus, kenapa ambil priority class? Kenapa gak beralih ke pesawat aja kalo harganya sebelas-dua belas?

Jadi gini, teman-teman.

Kronologi Kenapa Milih Priority Class
Tiga bulan ketika tiket kereta api (pada tanggal yang aku cari) sudah bisa dipesan, aku ikut menjadi bagian dari para pejuang tiket mudik. Akhirnya, dapatlah tiket untuk pulang kampung sesuai dengan tanggal yang aku mau. Sudah ku rencanakan pulang tanggal sekian, setelah jam pulang kantor, supaya aku tidak perlu mengajukan cuti. Jadi ikut jadwal cuti bersama aja sesuai kalender. Alhamdulillah. Senang dan tenanglah hati ini.
Kemudian pada suatu hari, terbitlah SKB tiga menteri yang mengatur dan menetapkan kembali soal cuti bersama. Jadilah cuti bersama (sebelum lebaran ini) bertambah dua hari. Wah otomatis dong aku inisiatif untuk cari tiket lagi. Supaya bisa lebih cepat pulang, daripada kelamaan di Jakarta sendirian. Sepi cuy. Ngapain juga aku di Jakarta sendirian. Sedih banget. Tapi apa daya, segala tiket kereta yang bisa berhenti di daerahku, ludes. Tak bersisa. Bahkan sampai tiket kereta tambahan pun tak ada yang tersisa. Ya maklum, karena memang berebut juga ketika waktu pemesanan tiket kereta tambahan dibuka. Aku paham. Lalu, dengan terpaksa aku mencari alternatif lain. Kereta api kelas eksekutif. Dan, habis! Ah sedih. Tapi aku tidak menyerah. Kucari kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa sampai di kampung halaman lebih cepat. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari rute Gambir-Madiun. Ada! Tapi hanya tersisa yang paling mahal. Priority Class. Harga tiket yang tertulis di aplikasi pemesanan tiket membuatku berpikir berulang-ulang. Lama sekali. Menimbang untung-rugi dan kadar penyesalan yang akan aku alami antara membeli dan tidak membelinya.
Pertama, dari tempatku tinggal di Jakarta ke bandara di Cengkareng itu lumayan jauh.
Kedua, harus naik taksi ke bandaranya karena aku malas kalau naik Damri, barang bawaan banyak cuy. Bayar taksinya juga lumayan kalau sendirian.
Ketiga, aku berasal dari daerah yang jauh dari bandara. Sampai di bandara sana aku masih harus naik taksi/Damri ke terminal, kemudian naik bus selama 2-3 jam, barulah sampai di kampung halaman. Lu bayangin aja betapa rempongnya pindah-pindah transportasi dengan barang bawaan yang banyak dan sendirian. Lelah. Bisa pingsan di jalan.
Keempat, kalau diitung-itung antara biaya, capek, dan rempongnya, akan lebih menguntungkan dan lebih nyaman kalau aku naik kereta. Dari tempatku tinggal di Jakarta ke stasiun Senen atau Gambir pun dekat. Sampai stasiun di daerah sana tinggal nunggu jemputan. Haha
Jadi aku putuskan untuk membeli tiket kereta api kelas prioritas!

Dapet Apa Aja Sih di Priority Class?
Kalau boleh ku sebut nama keretanya, aku dapat Bangunkarta Priority. Harga tiketnya sejuta lebih seratus ribu. Ingin ku menangis tapi sejujurnya aku lebih bersyukur masih ada tiket kereta yang bisa ku beli. Jadi bisa lebih cepat bertemu keluarga yang jauh disana. Dengan harga segitu, bisa dibilang sesuai sih sama pelayanan dan kenyamanan yang didapatkan. Ya meskipun aku bakal mikir-mikir juga kalau mau naik itu lagi. Buatku itu mahal Ya Allah. OK, jadi ini fasilitasnya:

1. Sesaat setelah kereta berangkat, akan ada petugas yang menyapa dan memandu kita berdoa agar diberi keselamatan selama di perjalanan hingga tujuan. Petugas juga akan menjelaskan ruang-ruang yang ada di gerbong kelas prioritas ini.

2. Tempat duduk yang nyaman banget untuk perorangan. Bisa diatur sandarannya, jadi bisa tidur dengan nyaman.

3. Ada layar mini yang menyatu di setiap kursi, jadi penumpang bisa menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu atau menonton film. Tapi sayangnya daftar lagu dan film yang ada sangat terbatas. Tidak terkoneksi dengan internet, jadi hanya bisa menikmati apa yang ada disitu aja.

4. Tirai penutup kaca yang bisa dibuka-tutup (naik-turun) sesuai keinginan.

5. Leg rest. Tapi sayangnya agak butuh usaha untuk aku bisa meletakkan kaki disitu. Kejauhan cuy. Aku terlalu mungil wkwk Oiya disitu ada sebotol air mineral juga termasuk fasilitas yang kita dapatkan. Gratis.

6. Selain dapat air mineral, kita dapat minuman berasa juga. Waktu itu sih aku dapat es sirup rasa jambu.

7. Ini fasilitas makan malam kita. Super lengkap. Waktu itu menunya nasi bakar lauknya daging, tahu, tempe, sama kerupuk. Cemilannya ada puding coklat, sepotong kue brownis, sama buah jeruk. Kita dikasih tisu basah juga loh. Jadi gak usah khawatir kalau makannya belepotan kemana-mana.

8. Ada fasilitas wifi juga. Setelah wifi terkoneksi, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.

9. Toiletnya lumayan luas, bersih, dan nyaman. Semacam toilet yang ada di penginapan gitu.


10. Minibar. Di minibar ini tersedia teh, kopi, kopi susu, creamer, dan gula. Gelas pun tersedia. Kita boleh meracik dan meminumnya sesuka hati. Gratis.

11. Kita bisa menikmati minuman di tempat duduk yang ada di mini bar ini. Kebetulan waktu itu aku meracik teh panas dan menikmatinya di minibar ini.

12. Ini adalah suasana perjalanan di malam hari. Lampu utama dimatikan, yang dinyalakan hanya lampu tidur. Suasananya beneran enak banget buat tidur nyenyak kayak di rumah sendiri.

Jadi itu ya teman-teman sedikit review tentang kereta api priority class berdasarkan pengalaman pribadi aku. Ya bisa dibilang seimbang lah antara harga dan fasilitas yang kita dapatkan. Tapi aku bakalan tetep mikir berkali-kali untuk mengulang pengalaman ini lagi. Keretanya nyaman banget. Justru karena terlalu nyaman itulah aku jadi ragu untuk tidur. Takut terlalu lelap terus kebablasan sampai stasiun akhir yang jauh banget dari stasiun tempatku seharusnya mengakhiri perjalanan. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih :)

Minggu, 03 Juni 2018

Tentang Mereka

Juni 03, 2018 0 Comments

Mengawali cerita kali ini, izinkan aku memperkenalkan mereka. Mereka adalah teman-temanku, saudara-saudaraku yang kebetulan sedang sama-sama singgah di Jakarta. Kami berasal dari daerah yang sama. Allah SWT memilihkan Jakarta sebagai tempat kami untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, meniti karier dan masa depan yang lebih baik, lebih mandiri, lebih bersyukur, dan membanggakan orang tua dengan cara yang baik. Kebiasaan kami adalah mencari dan mendeteksi teman-teman yang berada di perantauan yang sama, untuk kemudian kami sesekali berkumpul, bercanda, bercerita, dan lebih mengenal satu sama lain.


Minggu, 29 April 2018

Ini adalah hari pertama pertemuan kami. Di siang hari yang sangat cerah, tiba-tiba salah satu dari mereka menghubungiku via whatsapp: "Lagi di Jakarta nggak?".
Spontan, aku bertanya-tanya dalam hati. Ada apa? Tumben sekali.
Kemudian ia melanjutkan: "Ngumpul yuk sama temen-temen yang lagi di Jakarta."
Ketika itu aku tidak langsung mengiyakan. Tapi aku tanya dulu, sama siapa aja. Dan poin pentingnya adalah, harus ada teman perempuan yang ikut juga. Karena aku nggak mau berada dalam satu perkumpulan, tapi disitu aku perempuan sendiri. Meskipun aku sudah mengenal sebagian besar dari mereka sejak masih remaja. Ya sekitar SMP-SMA lah. Setelah semua jelas, akhirnya kita sepakat dan aku memutuskan untuk bertemu dengan mereka di salah satu tempat makan di Kota Kasablanka.

Di situlah kita mulai bercerita. Kembali mengingat-ingat masa remaja dulu. Cerita-cerita konyol yang pernah terjadi di antara kita. Dan di antara mereka, ada satu orang yang sudah lama sekali tak kulihat. Dia teman TK-ku! Sebenarnya kami satu SMP juga dulu. Tapi selepas TK, kemudian melanjutkan ke SD masing-masing, dan sejak itu lah kami tidak bertemu di masa kecil selama 6 tahun. Barulah kemudian kami masuk di SMP yang sama. Kelas kami sebelahan, tapi kurasa dia lupa. Sedih ya. (halah)
Di perkumpulan itu, aku mencoba membuatnya ingat tentang masa kecil dulu. Aku tak langsung memperkenalkan diri dan mengaku. Aku tebak-tebak, aku lontarkan pertanyaan-pertanyaan tentang sebagian kecil dari hidup dia yang pernah aku tau dan aku masih ingat sampai sekarang. Dia bingung dong, temen-temen yang lain pun bingung. Katanya aku intel. Hahahaha
Yasudah, mengalir. Kami semua saling bercerita. Dan benar, di antara kami ternyata ada yang dulunya satu TK juga. Tapi baru ngeh sekarang. Lucu ya :)
Sampai kemudian kami berjalan ke masjid untuk sholat maghrib. Karena aku kalo jalan kaki itu super cepet, kata temenku kek orang buru-buru, jadi lah salah satu dari mereka memanggilku dengan nama panggilanku semasa SMP dulu (karena pas SMA, panggilanku beda. Pas kuliah beda lagi wkwk). Naaah disitulah si teman TK ku ini baru ngeh dan bertanya: "Jangan-jangan panggilanmu dulu (pas TK) itu ya?" dan aku baru bilang: "IYA. Hehehe" . Daaan akhirnya dia baru sadar dan ngeh.

Selesai sholat maghrib, kami kembali berkumpul sebentar. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk berpencar. Ada yang pulang, ada juga beberapa yang lanjut nongkrong. Dan aku memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam.



--------------------

Jumat, 1 Juni 2018

Hari ini, kami kembali bertemu. Karena bertepatan dengan Bulan Ramadhan, jadi kami memutuskan untuk bersilaturahim pada waktu berbuka puasa. Ifthar jama'i. Buka bersama. Bukber katanya. Ada hal menarik dari pertemuan kali ini. Ada beberapa orang yang menginisiasi pertemuan ini, dan kami tidak memerlukan banyak diskusi. Tapi yang mengagumkan, beberapa orang dari kami yang belum saling kenal, tetap berangkat, berkumpul, dan akhirnya disitulah saling berkenalan (untuk beberapa yang belum kenal). Bertemu keluarga baru. Meskipun awalnya sempat ada yang canggung.


Bukber kali ini adalah yang sangat berkesan buatku. Sebentar memang, tapi berkesan.
Sebelum memutuskan untuk berangkat, ada kekhawatiran yang tiba-tiba saja muncul. Aku khawatir sholat maghrib akan mepet isya, dan sholat tarawih akan terlewat. Tapi ternyata, beberapa dari mereka sangat aware, sangat peduli dengan waktu sholat. Jadi mereka memilih tempat bukber yang dekat dengan masjid. Begitu adzan maghrib, minum, terus ke masjid buat sholat maghrib, abis gitu balik lagi buat makan. Dan sesegera mungkin mereka makan. Begitu masuk waktu isya, langsung kabur ke masjid. Sholat isya dan tarawih, tanpa takut ditinggalin sama temen-temennya pulang. Tapi ternyata, tanpa rencana, tanpa janjian dulu, sebagian besar dari kami nggak ada yang langsung pulang. Ada dua orang yang langsung pulang karena memang harus menempuh perjalanan yang agak jauh dan tidak bisa terlalu malam. Dan selepas tarawih kami kumpul lagi, baru foto-foto. That's why aku tidak berpikir panjang untuk bukber dengan mereka. Sebenarnya tempat bertemu ini lumayan jauh dari tempatku tinggal. Tapi selama ada beberapa orang (yang aku tahu) sangat aware, sangat peduli dengan waktu sholat, aku merasa aman. Dan terjamin.
Thanks yaa teman-temanku calon imam yang mengagumkan :) Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan segala urusan kalian. Dan pertemanan ini, persahabatan ini tetap terjaga, saling support untuk hal-hal baik. Aamiin :)