Jumat, 20 Juli 2018

Apa Pendapatmu tentang LDM?

Juli 20, 2018 0 Comments
Long Distance Marriage (LDM) atau hubungan jarak jauh pada pernikahan. Si suami di kota mana, si istri di mana. Sebuah hubungan yang (katanya) kurang atau bahkan tidak ideal. Mungkin sebagian besar orang kurang berkenan, tapi mungkin juga banyak yang tetap berjuang untuk hubungan semacam ini. Pasti banyak pendapat, banyak pandangan. Apa pendapat mereka tentang LDM? Ada beragam pendapat yang pernah aku baca dan aku dengar. Ada yang bilang kira-kira seperti ini:
Gak kuat.
atau
Karena yang jarang bertemu, lebih banyak menyimpan rindu.
atau
Big NO for me!
atau
Selama itu sementara dan ada kemungkinan untuk bersatu (dalam satu atap) dalam waktu dekat, it's bearable.
atau
Sejujurnya aku ragu untuk menjalankan LDM. Kalau dilihat dari luar sepertinya susah. Mungkin LDR dan LDM akan berbeda rasanya, rindunya, cost-nya, dan sedihnya. Tapi kalau masih bisa dijangkau dan hanya sebentar (at least sekitar satu sampai dua tahun) it's OK.
atau
Yakali udah nikah, berumah tangga tapi jauh-jauhan. Nanti anakku gimana? Pasti gak keurus.
atau
Kalau kita dan suami emang enjoy buat LDM sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, terus ada yang bilang "kasihan anaknya", lah kan kita yang ngejalanin.
atau
Halah udah nikah tapi jauh-jauhan itu ngabisin duit doang.
atau
Nikah tapi jauh-jauhan itu susah.
dan pendapat-pendapat lain yang serupa.

Lalu apa pendapatku tentang ini?
Aku sebenernya netral netral memihak sih wkwkw enggak ding bercanda. Kalau aku sih mencoba untuk memandangnya dari perspektif yang lebih luas. Open minded aja. Nggak semua yang hidup dalam satu atap itu pasti menyenangkan dan nggak semua LDM akan berakhir menyedihkan. Aku menghargai pendapat orang yang mengatakan LDM itu susah, atau LDM itu tidak susah. Semua tergantung yang menjalani hubungan itu. Kebetulan aku berada di lingkungan yang kehidupan rumah tangga orang-orangnya beragam. Mereka yang serumah dan mereka yang LDM. Ada beberapa yang awalnya LDR kemudian memutuskan untuk menikah dan menjalani LDM beda pulau. Ada yang semasa mudanya dulu menjalani LDM beda pulau, sampai akhirnya disatukan dalam satu rumah dan tetap utuh sampai punya anak cucu. Ada yang si suami dimana, si istri dimana, si anak dimana, beda kota semua. Ketemunya paling kalau pas libur. Ada yang si suami kerja dimana, si istri kerja dimana, kemudian anaknya di daycare atau sama baby sitter. Banyak. Ada yang si suami aja yang kerja/cari nafkah, si istri di rumah. Ya itu pilihan sih. Dan mereka tetap baik-baik saja. Gimana cara mereka untuk menjalani dan berjuang, ya kita nggak tahu. Itu cerita rumah tangga masing-masing pasangan.

Sama aja kayak: istri kerja (kantoran) atau enggak?
Memang (katanya) istri sebaiknya lebih fokus untuk mengurus rumah, suami, dan anak. Cukup suami yang kerja cari nafkah karena ya memang berkewajiban untuk menafkahi. Pernah suatu ketika aku mendengar ada yang bilang:
Kok rasanya sedih melihat ibu yang memilih menitipkan anaknya di tempat penitipan anak, demi kerja dan mengumpulkan pundi-pundi Rupiah. Kok tega ninggalin anaknya demi cari uang dari pagi sampai sore bahkan kadang-kadang sampai malam.

Lalu apa pendapatku tentang istri kerja (kantoran) atau enggak?
Jujur sebenernya aku sedih mendengar itu. Tapi aku juga tidak menyalahkan mereka yang berpendapat seperti itu. Menurutku, istri kerja (kantoran) atau nggak sih nggak ada yang salah. Kalau si suami tidak mengizinkan istri ngantor dan si istri menerima itu, ya silahkan. Kalau si suami ingin istrinya nggak ngantor tapi si istri maunya ngantor buat bantu-bantu untuk mencukupi kebutuhan, ya kompromikan. Kalau si suami sama sekali tidak keberatan istrinya ngantor, ya nggak ada salahnya kalau bikin kesepakatan untuk urusan rumah. Jadi ya tergantung gimana berdiskusi dan bersepakatnya aja. Ya memang perlu pengorbanan dan saling pengertian.

Menurutku, sebaiknya kita tidak "memvonis" orang lain dengan ukuran atau standar yang (katanya) ideal di mata banyak orang. Sebenernya standar ideal itu apa? Apakah ketika dipandang ideal lantas tidak akan ada masalah? Setiap orang punya tipe idealnya masing-masing. Setiap manusia punya track-nya masing-masing. Pun setiap pasangan punya cerita dan cara masing-masing. Allah SWT punya skenario unik untuk setiap manusia. Kalau niatnya mau kasih nasihat demi kebaikan yang bersangkutan, sampaikan dengan bahasa yang enak didengar, enak dibaca. Jangan men-judge karena berpikir pendapat kita yang paling benar. Silahkan memberi masukan. Kalau urusan pilihan, kembali lagi ke yang menjalankan. Semua itu tentang pilihan. Setiap pilihan akan ada konsekuensinya.


Sabtu, 14 Juli 2018

Senja

Juli 14, 2018 0 Comments
Senja yang selalu memukau. Dan rindu yang tak pernah selesai.
Hai kamu, boleh bawa aku tuk menikmati senja berdua? Nanti.

Senja akan lebih indah bila ku menikmatinya bersama dengan senyummu. Senyummu yang menciptakan rindu karena tidak pernah tidak semanis itu. Dan jarak mengajarkanku untuk bisa menghargai waktumu. Selamat sore, kamu. Semoga sehat dan bahagia selalu.

Kopi

Juli 14, 2018 0 Comments

Kopilih aku dengan sepenuh hati.
(Makasih ya)

Kopilih aku daripada dia.
(Ha!☺)

Kopintar sekali mencuri hati ini.
(Jangan curi-curi lah Mas. Terus terang aja biar terang terus. *Lah malah ngiklan)

Kopinta aku untuk menjadi pendamping hidupmu?
(Ah aku gak mau kalo cuma bercanda Mas)


--------------------
Kopi. Sak-enak-enak-e kopi,
sik luwih enak ndelok esemmu Mas.
(artinya: Seenak-enaknya kopi, masih lebih enak melihat senyummu Mas)
--------------------

Rabu, 04 Juli 2018

Garis Waktu dari Bung Fiersa

Juli 04, 2018 0 Comments

Mediakita menerbitkan buku pertama karya Fiersa Besari, Garis Waktu. Garis Waktu mulanya merupakan kumpulan tulisan yang terpecah dan tersebar di media sosial Bung Fiersa selama beberapa tahun silam, yang kemudian dikumpulkan kembali dan dibukukan. Banyak pesan menarik, pesan-pesan baik yang ada dalam buku ini. Aku jatuh cinta pada diksi yang Bung tuliskan. Menginspirasi, memainkan emosi. Rasanya semua pesan yang tertulis di buku ini penting, sampai aku tak bisa memilih mana satu pesan yang paling aku suka. Semuanya bagus. Mengagumkan. Baru membaca sepenggal tulisan yang ada di sampul belakang buku ini saja aku sudah tertarik.

--------------------
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang
mengubah hidupmu untuk selamanya.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan
pegangan.

Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada
titik-titik kenangan tertentu.

Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.

Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari
melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu
yang menyakitimu secara perlahan.
--------------------

Begitulah yang Fiersa Besari tuliskan pada sampul belakang buku pertamanya ini.

Pada suatu wawancara, Bung pernah mengatakan,
"Berkarya itu bukan dimulai dengan kita pengen kelihatan bagus depan orang lain. Tapi kita pengen menuangkan sesuatu untuk diri kita sendiri dulu aja gitu."
Dan (menurutku) Bung Fiersa membuktikan dan melakukan itu. Tulisan yang awalnya hanya kalimat pendek yang terpecah-pecah di media sosial, yang Bung tulis karena ingin menulis untuk dirinya sendiri, diminati oleh orang-orang di dunia maya, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati para pembaca.

Ada satu kalimat penutup di salah satu chapter-nya yang begitu manis, yang mengingatkan kita untuk tidak perlu bersedih terlalu lama. Akan ada hal indah yang menghampiri setelah kita terpuruk. Pesan itu ada di Garis Waktu.

"Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamanmu
saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong
dan digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu."
- Fiersa Besari -

Selasa, 03 Juli 2018

Mudik Eksklusif

Juli 03, 2018 0 Comments
Tiga bulan menjelang lebaran, seperti biasa, saatnya hunting tiket. Berebut tiket dari tengah malam pukul 00.00 WIB. Bisa dapat, bisa jadi kurang beruntung. Sepertinya butuh skill khusus untuk bisa mendapatkan tiket mudik yang pasti dicari oleh semua masyarakat. Bisa dibilang kereta api adalah moda transportasi favorit para pemudik, khususnya yang ada di Pulau jawa.
Kebetulan, mudik lebaran kali ini aku mendapat tiket kereta yang berbeda dari biasanya. Luar biasa. Bukan lagi ekonomi yang biasa aku naiki, bukan juga eksekutif pada umumnya. Priority Class. Ya. Gerbong yang (katanya) biasa digunakan oleh orang-orang penting, termasuk para pejabat di negeri ini. Terus, kenapa ambil priority class? Kenapa gak beralih ke pesawat aja kalo harganya sebelas-dua belas?

Jadi gini, teman-teman.

Kronologi Kenapa Milih Priority Class
Tiga bulan ketika tiket kereta api (pada tanggal yang aku cari) sudah bisa dipesan, aku ikut menjadi bagian dari para pejuang tiket mudik. Akhirnya, dapatlah tiket untuk pulang kampung sesuai dengan tanggal yang aku mau. Sudah ku rencanakan pulang tanggal sekian, setelah jam pulang kantor, supaya aku tidak perlu mengajukan cuti. Jadi ikut jadwal cuti bersama aja sesuai kalender. Alhamdulillah. Senang dan tenanglah hati ini.
Kemudian pada suatu hari, terbitlah SKB tiga menteri yang mengatur dan menetapkan kembali soal cuti bersama. Jadilah cuti bersama (sebelum lebaran ini) bertambah dua hari. Wah otomatis dong aku inisiatif untuk cari tiket lagi. Supaya bisa lebih cepat pulang, daripada kelamaan di Jakarta sendirian. Sepi cuy. Ngapain juga aku di Jakarta sendirian. Sedih banget. Tapi apa daya, segala tiket kereta yang bisa berhenti di daerahku, ludes. Tak bersisa. Bahkan sampai tiket kereta tambahan pun tak ada yang tersisa. Ya maklum, karena memang berebut juga ketika waktu pemesanan tiket kereta tambahan dibuka. Aku paham. Lalu, dengan terpaksa aku mencari alternatif lain. Kereta api kelas eksekutif. Dan, habis! Ah sedih. Tapi aku tidak menyerah. Kucari kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa sampai di kampung halaman lebih cepat. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari rute Gambir-Madiun. Ada! Tapi hanya tersisa yang paling mahal. Priority Class. Harga tiket yang tertulis di aplikasi pemesanan tiket membuatku berpikir berulang-ulang. Lama sekali. Menimbang untung-rugi dan kadar penyesalan yang akan aku alami antara membeli dan tidak membelinya.
Pertama, dari tempatku tinggal di Jakarta ke bandara di Cengkareng itu lumayan jauh.
Kedua, harus naik taksi ke bandaranya karena aku malas kalau naik Damri, barang bawaan banyak cuy. Bayar taksinya juga lumayan kalau sendirian.
Ketiga, aku berasal dari daerah yang jauh dari bandara. Sampai di bandara sana aku masih harus naik taksi/Damri ke terminal, kemudian naik bus selama 2-3 jam, barulah sampai di kampung halaman. Lu bayangin aja betapa rempongnya pindah-pindah transportasi dengan barang bawaan yang banyak dan sendirian. Lelah. Bisa pingsan di jalan.
Keempat, kalau diitung-itung antara biaya, capek, dan rempongnya, akan lebih menguntungkan dan lebih nyaman kalau aku naik kereta. Dari tempatku tinggal di Jakarta ke stasiun Senen atau Gambir pun dekat. Sampai stasiun di daerah sana tinggal nunggu jemputan. Haha
Jadi aku putuskan untuk membeli tiket kereta api kelas prioritas!

Dapet Apa Aja Sih di Priority Class?
Kalau boleh ku sebut nama keretanya, aku dapat Bangunkarta Priority. Harga tiketnya sejuta lebih seratus ribu. Ingin ku menangis tapi sejujurnya aku lebih bersyukur masih ada tiket kereta yang bisa ku beli. Jadi bisa lebih cepat bertemu keluarga yang jauh disana. Dengan harga segitu, bisa dibilang sesuai sih sama pelayanan dan kenyamanan yang didapatkan. Ya meskipun aku bakal mikir-mikir juga kalau mau naik itu lagi. Buatku itu mahal Ya Allah. OK, jadi ini fasilitasnya:

1. Sesaat setelah kereta berangkat, akan ada petugas yang menyapa dan memandu kita berdoa agar diberi keselamatan selama di perjalanan hingga tujuan. Petugas juga akan menjelaskan ruang-ruang yang ada di gerbong kelas prioritas ini.

2. Tempat duduk yang nyaman banget untuk perorangan. Bisa diatur sandarannya, jadi bisa tidur dengan nyaman.

3. Ada layar mini yang menyatu di setiap kursi, jadi penumpang bisa menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu atau menonton film. Tapi sayangnya daftar lagu dan film yang ada sangat terbatas. Tidak terkoneksi dengan internet, jadi hanya bisa menikmati apa yang ada disitu aja.

4. Tirai penutup kaca yang bisa dibuka-tutup (naik-turun) sesuai keinginan.

5. Leg rest. Tapi sayangnya agak butuh usaha untuk aku bisa meletakkan kaki disitu. Kejauhan cuy. Aku terlalu mungil wkwk Oiya disitu ada sebotol air mineral juga termasuk fasilitas yang kita dapatkan. Gratis.

6. Selain dapat air mineral, kita dapat minuman berasa juga. Waktu itu sih aku dapat es sirup rasa jambu.

7. Ini fasilitas makan malam kita. Super lengkap. Waktu itu menunya nasi bakar lauknya daging, tahu, tempe, sama kerupuk. Cemilannya ada puding coklat, sepotong kue brownis, sama buah jeruk. Kita dikasih tisu basah juga loh. Jadi gak usah khawatir kalau makannya belepotan kemana-mana.

8. Ada fasilitas wifi juga. Setelah wifi terkoneksi, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.

9. Toiletnya lumayan luas, bersih, dan nyaman. Semacam toilet yang ada di penginapan gitu.


10. Minibar. Di minibar ini tersedia teh, kopi, kopi susu, creamer, dan gula. Gelas pun tersedia. Kita boleh meracik dan meminumnya sesuka hati. Gratis.

11. Kita bisa menikmati minuman di tempat duduk yang ada di mini bar ini. Kebetulan waktu itu aku meracik teh panas dan menikmatinya di minibar ini.

12. Ini adalah suasana perjalanan di malam hari. Lampu utama dimatikan, yang dinyalakan hanya lampu tidur. Suasananya beneran enak banget buat tidur nyenyak kayak di rumah sendiri.

Jadi itu ya teman-teman sedikit review tentang kereta api priority class berdasarkan pengalaman pribadi aku. Ya bisa dibilang seimbang lah antara harga dan fasilitas yang kita dapatkan. Tapi aku bakalan tetep mikir berkali-kali untuk mengulang pengalaman ini lagi. Keretanya nyaman banget. Justru karena terlalu nyaman itulah aku jadi ragu untuk tidur. Takut terlalu lelap terus kebablasan sampai stasiun akhir yang jauh banget dari stasiun tempatku seharusnya mengakhiri perjalanan. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih :)