Selasa, 03 Juli 2018

Mudik Eksklusif

Tiga bulan menjelang lebaran, seperti biasa, saatnya hunting tiket. Berebut tiket dari tengah malam pukul 00.00 WIB. Bisa dapat, bisa jadi kurang beruntung. Sepertinya butuh skill khusus untuk bisa mendapatkan tiket mudik yang pasti dicari oleh semua masyarakat. Bisa dibilang kereta api adalah moda transportasi favorit para pemudik, khususnya yang ada di Pulau jawa.
Kebetulan, mudik lebaran kali ini aku mendapat tiket kereta yang berbeda dari biasanya. Luar biasa. Bukan lagi ekonomi yang biasa aku naiki, bukan juga eksekutif pada umumnya. Priority Class. Ya. Gerbong yang (katanya) biasa digunakan oleh orang-orang penting, termasuk para pejabat di negeri ini. Terus, kenapa ambil priority class? Kenapa gak beralih ke pesawat aja kalo harganya sebelas-dua belas?

Jadi gini, teman-teman.

Kronologi Kenapa Milih Priority Class
Tiga bulan ketika tiket kereta api (pada tanggal yang aku cari) sudah bisa dipesan, aku ikut menjadi bagian dari para pejuang tiket mudik. Akhirnya, dapatlah tiket untuk pulang kampung sesuai dengan tanggal yang aku mau. Sudah ku rencanakan pulang tanggal sekian, setelah jam pulang kantor, supaya aku tidak perlu mengajukan cuti. Jadi ikut jadwal cuti bersama aja sesuai kalender. Alhamdulillah. Senang dan tenanglah hati ini.
Kemudian pada suatu hari, terbitlah SKB tiga menteri yang mengatur dan menetapkan kembali soal cuti bersama. Jadilah cuti bersama (sebelum lebaran ini) bertambah dua hari. Wah otomatis dong aku inisiatif untuk cari tiket lagi. Supaya bisa lebih cepat pulang, daripada kelamaan di Jakarta sendirian. Sepi cuy. Ngapain juga aku di Jakarta sendirian. Sedih banget. Tapi apa daya, segala tiket kereta yang bisa berhenti di daerahku, ludes. Tak bersisa. Bahkan sampai tiket kereta tambahan pun tak ada yang tersisa. Ya maklum, karena memang berebut juga ketika waktu pemesanan tiket kereta tambahan dibuka. Aku paham. Lalu, dengan terpaksa aku mencari alternatif lain. Kereta api kelas eksekutif. Dan, habis! Ah sedih. Tapi aku tidak menyerah. Kucari kemungkinan-kemungkinan lain untuk bisa sampai di kampung halaman lebih cepat. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari rute Gambir-Madiun. Ada! Tapi hanya tersisa yang paling mahal. Priority Class. Harga tiket yang tertulis di aplikasi pemesanan tiket membuatku berpikir berulang-ulang. Lama sekali. Menimbang untung-rugi dan kadar penyesalan yang akan aku alami antara membeli dan tidak membelinya.
Pertama, dari tempatku tinggal di Jakarta ke bandara di Cengkareng itu lumayan jauh.
Kedua, harus naik taksi ke bandaranya karena aku malas kalau naik Damri, barang bawaan banyak cuy. Bayar taksinya juga lumayan kalau sendirian.
Ketiga, aku berasal dari daerah yang jauh dari bandara. Sampai di bandara sana aku masih harus naik taksi/Damri ke terminal, kemudian naik bus selama 2-3 jam, barulah sampai di kampung halaman. Lu bayangin aja betapa rempongnya pindah-pindah transportasi dengan barang bawaan yang banyak dan sendirian. Lelah. Bisa pingsan di jalan.
Keempat, kalau diitung-itung antara biaya, capek, dan rempongnya, akan lebih menguntungkan dan lebih nyaman kalau aku naik kereta. Dari tempatku tinggal di Jakarta ke stasiun Senen atau Gambir pun dekat. Sampai stasiun di daerah sana tinggal nunggu jemputan. Haha
Jadi aku putuskan untuk membeli tiket kereta api kelas prioritas!

Dapet Apa Aja Sih di Priority Class?
Kalau boleh ku sebut nama keretanya, aku dapat Bangunkarta Priority. Harga tiketnya sejuta lebih seratus ribu. Ingin ku menangis tapi sejujurnya aku lebih bersyukur masih ada tiket kereta yang bisa ku beli. Jadi bisa lebih cepat bertemu keluarga yang jauh disana. Dengan harga segitu, bisa dibilang sesuai sih sama pelayanan dan kenyamanan yang didapatkan. Ya meskipun aku bakal mikir-mikir juga kalau mau naik itu lagi. Buatku itu mahal Ya Allah. OK, jadi ini fasilitasnya:

1. Sesaat setelah kereta berangkat, akan ada petugas yang menyapa dan memandu kita berdoa agar diberi keselamatan selama di perjalanan hingga tujuan. Petugas juga akan menjelaskan ruang-ruang yang ada di gerbong kelas prioritas ini.

2. Tempat duduk yang nyaman banget untuk perorangan. Bisa diatur sandarannya, jadi bisa tidur dengan nyaman.

3. Ada layar mini yang menyatu di setiap kursi, jadi penumpang bisa menikmati perjalanan sambil mendengarkan lagu atau menonton film. Tapi sayangnya daftar lagu dan film yang ada sangat terbatas. Tidak terkoneksi dengan internet, jadi hanya bisa menikmati apa yang ada disitu aja.

4. Tirai penutup kaca yang bisa dibuka-tutup (naik-turun) sesuai keinginan.

5. Leg rest. Tapi sayangnya agak butuh usaha untuk aku bisa meletakkan kaki disitu. Kejauhan cuy. Aku terlalu mungil wkwk Oiya disitu ada sebotol air mineral juga termasuk fasilitas yang kita dapatkan. Gratis.

6. Selain dapat air mineral, kita dapat minuman berasa juga. Waktu itu sih aku dapat es sirup rasa jambu.

7. Ini fasilitas makan malam kita. Super lengkap. Waktu itu menunya nasi bakar lauknya daging, tahu, tempe, sama kerupuk. Cemilannya ada puding coklat, sepotong kue brownis, sama buah jeruk. Kita dikasih tisu basah juga loh. Jadi gak usah khawatir kalau makannya belepotan kemana-mana.

8. Ada fasilitas wifi juga. Setelah wifi terkoneksi, maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.

9. Toiletnya lumayan luas, bersih, dan nyaman. Semacam toilet yang ada di penginapan gitu.


10. Minibar. Di minibar ini tersedia teh, kopi, kopi susu, creamer, dan gula. Gelas pun tersedia. Kita boleh meracik dan meminumnya sesuka hati. Gratis.

11. Kita bisa menikmati minuman di tempat duduk yang ada di mini bar ini. Kebetulan waktu itu aku meracik teh panas dan menikmatinya di minibar ini.

12. Ini adalah suasana perjalanan di malam hari. Lampu utama dimatikan, yang dinyalakan hanya lampu tidur. Suasananya beneran enak banget buat tidur nyenyak kayak di rumah sendiri.

Jadi itu ya teman-teman sedikit review tentang kereta api priority class berdasarkan pengalaman pribadi aku. Ya bisa dibilang seimbang lah antara harga dan fasilitas yang kita dapatkan. Tapi aku bakalan tetep mikir berkali-kali untuk mengulang pengalaman ini lagi. Keretanya nyaman banget. Justru karena terlalu nyaman itulah aku jadi ragu untuk tidur. Takut terlalu lelap terus kebablasan sampai stasiun akhir yang jauh banget dari stasiun tempatku seharusnya mengakhiri perjalanan. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih :)

Tidak ada komentar: