Minggu, 26 Mei 2019

Tentang Parenting

Mei 26, 2019 0 Comments
Pagelaran Islami dan Seminar Parenting
Ahad, 19 Mei 2019 | Auditorium BPPT Jakarta



Narasumber 1 : Kang Abay Adhitya

- Pengaruh Konten Terhadap Kehidupan -

Apa yang setara dengan musik tapi bukan musik?
Adalah pidato/ceramah.

Lagu yang easy listening seperti sebuah pidato/ceramah yang luar biasa berpengaruh untuk pendengar dan penontonnya. Ditambah dengan visual yang bagus, itu akan memiliki pengaruh yang luar biasa.
Misal: nadanya easy listening tapi liriknya negatif, maka bisa jadi membawa pengaruh negatif untuk pendengarnya.
Lagu yang gak enak itu seperti sebuah ceramah/pidato yang buruk.

All art is propaganda
Di dalam sebuah karya seni, pasti ada pesan yang hendak disampaikan oleh produser, komposer, dan semua yang terlibat dalam pembuatan karya tersebut. Buku, lagu, video clip adalah propaganda: siapa menyampaikan apa kepada siapa.
Konten yang paling kuat pengaruhnya terhadap perilaku dan mindset seseorang adalah film dan video clip karena menggunakan semua unsur: audio, visual, dan jalan cerita.

Contoh: Propaganda tentang LGBT
Sekarang ini semakin banyak lagu-lagu yang mengusung tema LGBT dan diperjelas dengan sebuah MV/video clip. Siapa yang menjadi target propaganda itu? Targetnya adalah seluruh dunia. Hal itu disebarkan melalui konten yang salah satunya adalah berupa lagu dan video clip untuk secara tidak sadar membentuk mindset seseorang bahwa itu adalah hal yang wajar.
Contoh beberapa lagu yang mengandung unsur propaganda LGBT:
* Heart Attack - Loona
* Neverland - Holland
* Please Don't - K.Will
dan masih banyak lagi.

Sebagai orang tua, seharusnya kita mengawasi konten-konten apa saja yang diakses oleh anak-anak. Jangan terlalu membebaskan anak, apalagi sampai mengakses konten-konten yang negatif.
Mati-matian kita menjaga dan mendidik anak kita, tapi kalau tidak turut mengawasi dan mengarahkan konten yang mereka akses, maka percuma.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Narasumber 2 : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari / Abah Ihsan (Parenting Consultant)

- Ajaran Rasulullah SAW dalam Mengurus Keluarga -

Bagaimana ajaran Rasulullah SAW dalam mengurus keluarga?
1. Orang tua yang Siddiq (benar) bukan Kidzib (dusta)
Kalau mau anak menjadi penyejuk hati orang tua, jangan pernah bohong sama anak. Berbohong kepada anak, sama aja dengan berbohong pada orang dewasa. Karena satu kebohongan akan memunculkan kebohongan yang lain.
Anak yang pembangkang, akarnya adalah sering dibohongi orang tua, sehingga tidak percaya pada ucapan orang tua. Semua orang tua harus menguasai anak, tapi tidak boleh semena-mena.

2. Orang tua yang Amanah (dapat dipercaya) bukan Khianat (tidak setia)
Orang tua harus bisa menjaga dan mendidik anaknya dengan baik. Jangan sampai suatu saat nanti anak "mencari identitas" atau mencari pengakuan di luar sana, apalagi kalau sampai mencari pengakuan di lingkungan yang salah.
Mengurus hati dan pikiran anak adalah tugas seorang ayah. Termasuk yang mengajarkan sholat seharusnya adalah ayah.

3. Orang tua yang Tabligh (menyampaikan) bukan Kitman (menyembunyikan)
Kalau bertemu dengan anak, sempatkan untuk ngobrol. Kalau di rumah terbiasa ngobrol sama suami/istri/anak, maka tidak mungkin anak itu akan menjadi anak yang bermasalah. Seringnya orang tua menyalahkan lingkungan ketika anak berrmasalah.
Contoh:
"Anak saya jadi rusak begitu gara-gara gaul sama si itu, gara-gara temenan sama si itu."
Padalah lebih lama mana, anak mengenal orang tua atau temennya? Orang tua.
Ketika anak bermasalah, sering kali orang tua mengirimkannya ke ustadz/ustadzah. Padahal mah yang ngerusak siapa, yang suruh benerin siapa.

Orang tua seharusnya menjadi Murabbi (pendidik) untuk anak-anaknya.
- Mu'alim untuk anaknya (memberi ilmu)
- Mursyid untuk anaknya (memberi petunjuk)
- Mu'addib untuk anaknya (mengajarkan adab)

4. Orang tua yang Fathanah (cerdas) bukan Baladah (bodoh)
Kalau orang tua ingin bisa mempengaruhi anak, bisa menguasai anak, maka orang tua harus punya ilmunya dulu.
Contoh: Anak boleh punya ponsel (HP) kalau sudah bisa bertanggung jawab. Ngerti mana yang salah, mana yang bener. Ngerti mana yang kebutuhan, mana yang keinginan. Secara psikologis, pada umumnya anak sudah bisa bertanggung jawab pada usia 18 tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan anak yang usianya masih di bawah 18 tahun, tapi secara sikap dan pemikirannya sudah dewasa, sudah bisa bertanggung jawab. Bisa jadi juga sebaliknya, sudah di atas 18 tahun tapi masih belum bisa bertanggung jawab.
Kalau misal si anak masih di bawah 18 tahun tapi udah ngerti tanggung jawabnya, waktunya sholat nggak perlu disuruh udah langsung sholat, waktunya belajar ya belajar, nggak main game mulu sampai lupa waktu, barulah si anak boleh punya ponsel (HP).

Ciri orang tua yang mengurus anak adalah:
1. Bersama anak (mendidik anak). Karena mengurus anak bukan sebatas soal mengurus "perut anak" saja. Ada tanggung jawab terhadap akhlak anak.
2. Menyediakan waktu untuk bertemu dengan anak.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Please disconnected all gadget sebelum tidur. Sempatkan ngobrol dulu.

Ciri suami istri yang bahagia adalah ada suara di rumah, tidak boleh saling diam, harus ada obrolan/diskusi.

Udah dari pagi sampai sore pisah sama anak istri, eh sampai rumah si suami malah main game, si istri nonton sinetron, si anak sibuk online sosmed. Itu rumah apa kos-kosan?
Kenapa nikah kalau belum siap berkeluarga? Ngapain nikah kalau kayak gitu?

Kenapa kita harus belajar parenting? Padahal orang tua kita zaman dulu aja nggak pake belajar ilmu parenting, buktinya kita bisa jadi "orang", bisa sukses.
Kenapa? Karena lingkungannya beda. Zaman dulu kalau dimarahin orang tua, kita nurut. Kalau dikasih tahu, nurut. Belum ada internet, akses informasi belum segampang sekarang. Sedangkan sekarang makin banyak konten yang negatif. Kalau kita nggak belajar parenting, gimana kita bisa mendidik anak dengan baik? Orang tua harus bisa mengikuti perkembangan, jangan gaptek, supaya bisa mengawasi apa yang diakses oleh si anak.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*Disclaimer: Tulisan ini saya tulis berdasarkan apa yang saya dengar dan serap dari seminar.

Referensi tambahan: