Senin, 28 Mei 2018

KOLASE ala Fiersa Besari

Mei 28, 2018 0 Comments

Ini adalah buku kedua karya Bung Fiersa Besari yang diterbitkan oleh mediakita. Albuk (Album buku) lebih tepatnya. Bung Fiersa menciptakan cara istimewa untuk menikmati KOLASE (Konspirasi Alam Semesta) ini melalui sebuah kode tersembunyi.

Membaca buku ini membuatku belajar banyak tentang hidup. Memang cerita di dalamnya fiksi. Tapi aku bisa belajar tentang apa itu kesabaran, keyakinan, misi sosial dan kemanusiaan, kerja keras, perjuangan, dan rindu. Bagaimana perjuangan hebat seorang istri yang sedang mengandung, ditinggal pergi oleh suaminya demi sebuah misi sosial dan kemanusiaan. Salut! Semesta menyimpan skenarionya yang begitu kompleks. Merinding rasanya ketika membaca.

Lelaki kelahiran Bandung sekian tahun silam ini berhasil mengemasnya dengan sangat apik, tanpa ada kesan menggurui sedikitpun.
Terima kasih, Bung. Karyamu mengagumkan!

-----------------------------------------------------

"Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba. Kamu keras kepala, aku juga. Dan menjadi dua orang keras kepala yang mempertahankan mati-matian sebuah hubungan adalah hal yang menyenangkan. Sejak itu, hatiku genap." 
[Konspirasi Alam Semesta, Fiersa Besari]

Rabu, 23 Mei 2018

Boleh?

Mei 23, 2018 0 Comments
Hai.
Bolehkah aku menjagamu dari jauh?
Bolehkan aku  membuat hati ini merasa terikat denganmu?
Bolehkah ku abai dengan segala rasa, kecuali untukmu?
Dan bolehkan aku memintamu untuk melakukan hal yang sama?
Pertama, mendoakanmu sehat selalu.
Kedua, menjaga perasaan ini hingga benar-benar terikat denganmu.
Ketiga, tanpa berlebihan membuatmu nyaman bersamaku.
Dan doa-doa baik untukmu.



Selasa, 22 Mei 2018

Kampoeng Koffie

Mei 22, 2018 0 Comments
pict from Google
Dua hari lalu –aku nulis ini hari selasa, berarti minggu ya?– aku membuat kesepakatan dengan sohibku untuk pergi berdua. Mau nongkrong gitu ceritanya. Kami memilih untuk nongkrong di tempat yang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Biar kagak capek di jalan cuy! Dan daerah Cempaka Putih (Jakarta Pusat) lah yang terpilih. Kemudian setelah diskusi yang tidak terlalu panjang –singkat aja cuy diskusinya, kagak usah kelamaan– kami memilih untuk singgah di sebuah tempat yang namanya Kampoeng Koffie. Jadi, izinkan saya mereviu tempat ini dan semoga kalian berminat untuk membaca.

Kesan Pertama
Sampai di depan kedainya, kesan pertama yang kurasa adalah tenang. Kalau dilihat dari banyaknya motor yang berjajar di tempat parkir, sepertinya tempat ini tidak bising dan tidak crowded.

pict from Google

Suasana dan Interior?
Masuklah kami ke Kampoeng Koffie ini. Dan benar, suasananya aku suka! Jauh dari ingar bingar dan nggak crowded sama sekali. Suasananya enak banget buat kalian yang mau ngerjain tugas sambil ngopi, kumpul sama temen-temen, atau sekedar santai menikmati secangkir kopi. Sepertinya cocok buat tempat nongkrong para pemikir (halah). Btw disini hening. Beda dari tempat nongkrong lain yang biasanya full music dan rame. Tapi kalian nggak usah khawatir, disini disediain gitar juga loh. Jadi kalian bisa tuh nyanyi-nyanyi pake gitar sama temen-temen.
Kalo dari interiornya, tempat ini mengusung tema vintage kali ya. Mulai dari properti sampai suasananya. Pokoknya cozy banget buat santai. Aku sih suka. Semoga kamu juga.



pict from Google
pict from Google




pict from Google

Menunya?
Kalau soal menu, disini nggak cuma ada kopi. Ada menu lain juga kok. Waktu kesini aku pesen nasi goreng (30k) sama green tea latte (30k), sohibku pesen kwetiau goreng sama cappucino (lupa harganya berapa hehe).


Berikut daftar menu yang ada di Kampoeng Koffie. Daftar menunya aku dapat dari Zomato ya. (note: Harga bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan). Dan kebetulan pas kami kesana, beberapa menu harganya memang udah berubah dari yang ada di Zomato.







Kampoeng Koffie, mungkin aku akan kembali.

Kamis, 17 Mei 2018

Ramadhan di Perantauan

Mei 17, 2018 0 Comments

Sudah bukan hal baru lagi mengawali Ramadhan tidak di kampung halaman. Merasakan atmosfer bulan suci di tanah perantauan, sendirian. Sahur dan berbuka tanpa keluarga. Belajar mengatur waktu untuk menyiapkan semuanya sendiri. Mandiri. Tepatnya lima tahun yang lalu aku memulainya. Ketika aku harus melanjutkan pendidikan ke luar kota. Tiga tahun pertama, aku menjalankan ibadah Ramadhan bersama teman-teman kuliah. Bangun lebih awal untuk keluar membeli makan sahur. Atau kalau tidak ingin bangun lebih awal, selepas tarawih pergi ke warung untuk membeli makan sahur. Ngabuburit dihabiskan dengan cara berjalan di sepanjang gang depan kos untuk menentukan makanan mana yg akan dibawa pulang untuk berbuka.
Lulus kuliah, ku kira akan bisa kembali mengawali Ramadhan bersama keluarga di rumah. Tapi rupanya perantauan masih berpihak padaku. Jakarta. Ya, tepatnya Jakarta Pusat yg menawarkanku suasana bulan suci Ramadhan yg sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Ngabuburit tak lagi di sepanjang gang depan kos, tapi di sepanjang jalan penuh suara klakson. Baru sebentar menginjakkan kaki di kamar kos, tau-tau sudah adzan maghrib. Dan sepertinya aku akan "bersahabat" dengan riuhnya suara klakson dari kendaraan yg saling berdempetan itu dalam waktu yg cukup lama. Jakarta telah "mengajakku" menetap.
Aku bukan bersedih. Tidak. Aku hanya rindu mengawali dan menjalankan ibadah Ramadhan ini di rumah bersama mama, bapak, dua adikku, dan teman-temanku semasa kecil sampai remaja dulu. But, thanks semesta, kau memberiku banyak pengalaman.

Selamat menjalankan ibadah puasa, teman-teman! Semoga lancar :)