Kamis, 06 Desember 2018

Sesi Curhat #4

picture from Google

Bicara soal menikah dan pernikahan emang nggak ada abisnya. Apalagi di umur angkatan gue yang emang udah mulai banyak yang sebar undangan. Setiap kali gue share atau repost bacaan yang berkaitan sama pernikahan, pasti ada pertanyaan/pernyataan :
"jadi kapan nikahnya?"
atau
"wah kayaknya udah siap nih?"
atau
"jangan lupa undangannya ya."

Btw makasih atas doa dan motivasinya, ya. Tapi sejujurnya, makin kesini gue jadi makin woles. Se-dikasihnya Allah SWT aja waktunya kapan dan sama siapa. Daripada baper dan capek mikirin nikah mulu yekan? Gue dulu pernah menargetkan mau nikah umur berapa. Tapi ternyata target gue emang perlu direvisi dan nunggu "persetujuan" dari Allah SWT. Manusia bisa berencana, tapi ketetapan terindah itu dari-Nya.

Gue jadi makin woles kapan nikahnya dan sama siapanya, karena seiring berjalannya waktu gue sadar kalau segala hal itu ada waktunya, ada waktu yang tepat. Dan gue semakin sadar kalau pernikahan itu bukan hal yang main-main. Sebelum memutuskan menikah, gue harus pastiin dulu kalau gue-nya sreg dan orang tua merestui. Kalau gue sreg tapi orang tua nggak merestui, ya gue nggak berani lanjut ke pernikahan. Kalau orang tua gue merestui tapi gue-nya nggak sreg, ya gue pikir-pikir dulu. Karena yang akan hidup seterusnya sama dia itu gue, bukan orang tua gue. Gue akan jadi tanggung jawabnya dia. Kalau gue-nya udah nggak sreg duluan, takutnya pas udah nikah nanti malah gue jadi beban buat dia dan nggak mau mengindahkan nasihat dia gitu.

Pernikahan itu bukan "ajang pelarian" yang katanya pengen bahagia selamanya sama seseorang yang disayang, yang capek sama kuliah/sekolah terus katanya mau nikah aja biar bahagia. Kata orang tua gue, kehidupan setelah menikah itu lebih kompleks. Tanggung jawabnya lebih banyak karena yang dipikirin nggak cuma soal diri sendiri.

Bagi seorang laki-laki, siap menikah berarti siap untuk mengambil alih tanggung jawab ayah si perempuan yang dinikahinya. Sandang, pangan, papan. Gimana dulunya si ayah itu membesarkan putrinya, mencukupi kebutuhan putrinya, berjuang demi kebahagiaan putrinya, itu semua akan berpindah dan menjadi tanggung jawab suami dari anak perempuannya.

Jadi, yang udah siap nikah dan udah ketemu waktunya, ya menikahlah. Yang masih pengen melanjutkan hidup sendiri, lanjutkanlah. Itu pilihan. Setiap orang, setiap pasangan, punya ceritanya masing-masing.
Setiap pasangan pasti punya konflik. Beda-beda. Bahagia atau enggaknya, capek atau enggaknya, semua tergantung gimana cara pasangan itu menyikapi, berdiskusi, dan menjalankan solusi. 

Tidak ada komentar: