Selasa, 11 Desember 2018

Membaca Karya Fiersa


Namanya Fiersa Besari. Dia lebih suka dipanggil dengan sebutan "Bung". Bung Fiersa adalah seorang penulis asal Bandung yang karya-karyanya sungguh menyenangkan untuk dibaca. Kali pertama, aku berkenalan dengan Garis Waktu. Aku menemukannya tanpa sengaja ketika sedang singgah di Gramedia. Setelah beberapa waktu, terbitlah Konspirasi Alam Semesta. Dilanjutkan dengan Catatan Juang, Arah Langkah, dan 11:11.

1. Garis Waktu


Ketika tanpa sengaja menemukan Garis Waktu, awalnya aku kira novel. Tapi setelah aku baca, ternyata berisi kumpulan pesan yang menarik dengan diksi yang teramat baik. Ternyata Garis Waktu adalah kumpulan dari pemikiran-pemikiran Bung Fiersa yang selama ini berserak di dunia maya, kemudian dikembangkan supaya menjadi menarik untuk dibukukan.

Terima kasih karena telah menuntunku untuk tersenyum ketika beranjak tidur. Jika kata "sayang" terlalu berlebihan untuk memaparkan apa yang aku rasakan, biarkan aku menjadi seseorang yang menjagamu ketika kau rapuh, dan menarikmu turun ketika kau terlalu angkuh. Akan tetapi, jika kata "sayang" tidak berlebihan, maka izinkanlah aku mengucap "aku menyayangimu"...tanpa batas waktu. - (halaman 72)

Iya, cinta bisa menghilang. Lantas, kenapa kakek dan nenek kita bisa bertahan hidup berdua sampai mereka meninggal? Karena saat cinta menghilang, mereka punya sesuatu yang disebut kasih sayang, keterbiasaan, empati, dan tentu saja komunikasi. "Hidup akan baik-baik saja selama kita memiliki kita." - (halaman 84)

Teruntukmu seseorang di kejauhan, tak usah khawatir. Jarak terjauh kita adalah "waktu". Tabungan terindah kita adalah "rindu". Langkah ini akan tertuju padamu; hingga aku utuh menjadi milikmu. - (halaman 111)

2. Konspirasi Alam Semesta


Judul yang sangat menarik. Dari situlah aku penasaran sebenarnya buku ini menceritakan tentang apa. Aku baru tahu kalau ternyata ada penulis yang merilis album buku atau bisa disingkat albuk. Albuk yang oleh penulisnya sendiri juga dikenalkan dengan sebutan Kolase (singkatan dari Konspirasi Alam Semesta) ini mengagumkan. Buku ini rilis satu paket dengan album Fiersa Besari yang lagu-lagunya bisa didapat dengan cara me-scan QR code yang ada di postcard-nya (yang juga satu paket, terselip di dalam buku). Membaca sembari mendengarkan lagu-lagunya sangat menyenangkan. Jadi terbawa suasana. Kadang-kadang juga dibuat baper, entah karena imajinasiku yang terlalu liar, atau memang Bung Fiersa yang sangat piawai membuat para pembacanya memainkan imajinasi. Memang cerita fiksi. Tapi membaca buku ini membuatku banyak belajar tentang hidup. Tetang kesabaran, keyakinan, kemanusiaan, perjuangan, dan rindu.

Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. - (halaman 20)

Aku memilih untuk berani membuatmu bahagia karena terlalu takut melihatmu menangis. Aku memilih untuk berani berdiri di atas lutut sendiri karena terlalu takut melihatmu pergi. Aku memilih untuk berani mendampingimu karena terlalu takut hidup tanpamu. Aku memilih untuk berani memperjuangkanmu karena terlalu takut kehilanganmu. - (halaman 157)

Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba. Kamu keras kepala, aku juga. Dan menjadi dua orang keras kepala yang mempertahankan mati-matian sebuah hubungan adalah hal yang menyenangkan. Sejak itu, hatiku genap. - (halaman 176)

Setelah membaca Konspirasi Alam Semesta, ada baiknya membaca Catatan Juang juga. Atau dibalik pun tidak masalah. Catatan Juang dulu, baru Konspirasi Alam Semesta. Karena cerita dalam dua buku itu masih saling berhubungan.

3. Catatan Juang


Catatan Juang bisa aku sebut sebagai catatan ajaib untuk seorang tokoh utamanya. Catatan yang turut andil dalam mengubah pola pikir, dan seolah-olah mengerti apa yang sedang dirasakan dan dialami oleh tokoh utamanya. Ada pesan, motivasi, dan inspirasi yang bisa membuat tokoh utamanya berpikir, merenung, kemudian bangkit untuk memperbaiki apa yang menurutnya kacau.

Kita seringkali melihat, namun tidak menyimak; mendengar, namun tidak memperhatikan; mangabadikan, namun tidak menikmati. Padahal, sebuah kenangan akan tercipta jika kita hadir secara utuh tanpa sibuk memikirkan akan posting foto dan video keindahan apa di media sosial. - (halaman 74-75)

Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri. Komitmen berarti mengikat dua orang yang memiliki masa lalu berbeda untuk visi dan misi yang sama. - (halaman 84)

Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang lain mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah. - (halaman 198)

Mengejar bayangan memaksamu mengempaskan seseorang yang memelukmu erat. atas nama "khilaf", kau korbankan segala cerita yang pernah terjalin dengan seseorang yang menyayangimu. Lantas, saat ketahuan, kau meminta maaf sejadi-jadinya. Kalau tidak ketahuan, tidak minta maaf? Kadang, kita terlalu dungu untuk melihat bahwa kebahagiaan sesungguhnya sudah ada dalam genggaman. Kadang, kita memilih untuk melemparkan apa yang sudah kita genggam demi menggapai nafsu sesaat. Jangan lupa, bayangan hanya hadir di kala terang. Dan akan hilang di kala gelap. Namun, seseorang yang menyayangimu takkan pernah pergi segelap apa pun harimu. - (halaman 248)

 4. Arah Langkah


Berbeda dengan buku sebelumnya, Arah Langkah menceritakan bagaimana perjalanan Bung Fiersa ketika berkelana. Membaca buku ini membuatku seolah ikut menyusuri indahnya Nusantara, dengan berbagai daya tarik dan kearifan lokalnya. Di dalam buku ini Bung menceritakan pengalaman-pengalaman seru ketika betualang bersama dua sahabatnya. Di awal cerita, Bung menyisipkan kisah cinta dengan masa lalunya yang sungguh drama, tapi ternyata benar adanya, yang akhirnya membuat Bung memutuskan untuk berkelana.

Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia yang menjadikannya mengeja. - (halaman 32)

Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. - (halaman 66)

Ketika tinta pengkhianatan tumpah di atas aksara kisah, tulisan tentang kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Tak pernah lagi bisa. - (halaman 69)

... hidup ini menyenangkan kalau kita lihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap. - (halaman 207)

Karena perpisahan, semanis apa pun,  seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan. - (halaman 292)

5. 11:11


Sama seperti judulnya, buku ini mulai beredar di pasaran pada tanggal 11 bulan 11 (November) dengan 11 cerita di dalamnya. Sama juga seperti Konspirasi Alam Semesta, ini adalah albuk (album buku) kedua dari Fiersa Besari. Bedanya, bagian-bagian dalam albuk kedua ini tidak saling berkaitan. Satu bagian, satu cerita. Kalau bahasa umumnya, mungkin bisa disebut sebagai kumpulan cerpen. 

Ada dua bagian yang pesan tersiratnya sangat menarik menurutku:
Home adalah bagian yang paling aku suka. Sekeras apa pun bekerja, segiat apa pun berusaha, uang dan keluarga tidak akan pernah bisa sejajar. Uang masih bisa dicari, tapi waktu bersama keluarga adalah bahagia yang tak bisa ditukar dengan barang semahal apa pun. Kalau kata cerita zaman dulu: Harta yang paling berharga...adalah keluarga...~ *autonyanyi :D

Lainnya yang aku suka adalah Melangkah Tanpamu. Terkadang, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, tapi memang untuk menjadi kenangan. Setelah apa dan dengan siapa pernah mengukir kisah dalam hidup ini, pasti akan ada satu orang yang benar-benar berarti dan sulit menghilang dari ingatan.
Kata penulisnya disampul belakang buku ini: "Orang bilang, jodoh takkan ke mana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan kemana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi."

--------------------------------------------------------------------------------
Baru kali ini aku mengidolakan penulis sampai sebegitunya. Tapi bukan hanya tulisan Bung Fiersa yang membuatku jatuh cinta. Aku mengagumi pemikirannya, tulisannya, musiknya, fotografinya, jurnalnya. Menurutku, dia seperti paket lengkap. Karena apa yang menjadi objek menarik buatku, ada di Fiersa Besari semua: buku/tulisan, musik, dan fotografi.
Bersyukur, mimpiku untuk bisa bertemu, mendengarkan cerita dan suaranya ketika bernyanyi secara langsung, menyapa, dan berdiri di sebelahnya, akhirnya tercapai di 19 September 2018.

Bung Fiersa sedang bercerita.
Bung Fiersa sedang menyanyikan lagu Kala.
Akhirnya, berhasil "nodong" tanda tangan.
Dan bertemu (sebagian) Kerabat Kerja.
*kawan-kawan Bung Fiersa dalam bermusik*

Tidak ada komentar: