Selasa, 11 Desember 2018

Membaca Karya Fiersa

Desember 11, 2018 0 Comments

Namanya Fiersa Besari. Dia lebih suka dipanggil dengan sebutan "Bung". Bung Fiersa adalah seorang penulis asal Bandung yang karya-karyanya sungguh menyenangkan untuk dibaca. Kali pertama, aku berkenalan dengan Garis Waktu. Aku menemukannya tanpa sengaja ketika sedang singgah di Gramedia. Setelah beberapa waktu, terbitlah Konspirasi Alam Semesta. Dilanjutkan dengan Catatan Juang, Arah Langkah, dan 11:11.

1. Garis Waktu


Ketika tanpa sengaja menemukan Garis Waktu, awalnya aku kira novel. Tapi setelah aku baca, ternyata berisi kumpulan pesan yang menarik dengan diksi yang teramat baik. Ternyata Garis Waktu adalah kumpulan dari pemikiran-pemikiran Bung Fiersa yang selama ini berserak di dunia maya, kemudian dikembangkan supaya menjadi menarik untuk dibukukan.

Terima kasih karena telah menuntunku untuk tersenyum ketika beranjak tidur. Jika kata "sayang" terlalu berlebihan untuk memaparkan apa yang aku rasakan, biarkan aku menjadi seseorang yang menjagamu ketika kau rapuh, dan menarikmu turun ketika kau terlalu angkuh. Akan tetapi, jika kata "sayang" tidak berlebihan, maka izinkanlah aku mengucap "aku menyayangimu"...tanpa batas waktu. - (halaman 72)

Iya, cinta bisa menghilang. Lantas, kenapa kakek dan nenek kita bisa bertahan hidup berdua sampai mereka meninggal? Karena saat cinta menghilang, mereka punya sesuatu yang disebut kasih sayang, keterbiasaan, empati, dan tentu saja komunikasi. "Hidup akan baik-baik saja selama kita memiliki kita." - (halaman 84)

Teruntukmu seseorang di kejauhan, tak usah khawatir. Jarak terjauh kita adalah "waktu". Tabungan terindah kita adalah "rindu". Langkah ini akan tertuju padamu; hingga aku utuh menjadi milikmu. - (halaman 111)

2. Konspirasi Alam Semesta


Judul yang sangat menarik. Dari situlah aku penasaran sebenarnya buku ini menceritakan tentang apa. Aku baru tahu kalau ternyata ada penulis yang merilis album buku atau bisa disingkat albuk. Albuk yang oleh penulisnya sendiri juga dikenalkan dengan sebutan Kolase (singkatan dari Konspirasi Alam Semesta) ini mengagumkan. Buku ini rilis satu paket dengan album Fiersa Besari yang lagu-lagunya bisa didapat dengan cara me-scan QR code yang ada di postcard-nya (yang juga satu paket, terselip di dalam buku). Membaca sembari mendengarkan lagu-lagunya sangat menyenangkan. Jadi terbawa suasana. Kadang-kadang juga dibuat baper, entah karena imajinasiku yang terlalu liar, atau memang Bung Fiersa yang sangat piawai membuat para pembacanya memainkan imajinasi. Memang cerita fiksi. Tapi membaca buku ini membuatku banyak belajar tentang hidup. Tetang kesabaran, keyakinan, kemanusiaan, perjuangan, dan rindu.

Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi rahasia. Bukan untuk disampaikan, hanya untuk dikirimkan lewat doa. - (halaman 20)

Aku memilih untuk berani membuatmu bahagia karena terlalu takut melihatmu menangis. Aku memilih untuk berani berdiri di atas lutut sendiri karena terlalu takut melihatmu pergi. Aku memilih untuk berani mendampingimu karena terlalu takut hidup tanpamu. Aku memilih untuk berani memperjuangkanmu karena terlalu takut kehilanganmu. - (halaman 157)

Akhirnya, kita memilih untuk mencoba memperjuangkan apa yang kita rasa. Meski sulit, meski berat, kita memilih untuk mencoba. Kamu keras kepala, aku juga. Dan menjadi dua orang keras kepala yang mempertahankan mati-matian sebuah hubungan adalah hal yang menyenangkan. Sejak itu, hatiku genap. - (halaman 176)

Setelah membaca Konspirasi Alam Semesta, ada baiknya membaca Catatan Juang juga. Atau dibalik pun tidak masalah. Catatan Juang dulu, baru Konspirasi Alam Semesta. Karena cerita dalam dua buku itu masih saling berhubungan.

3. Catatan Juang


Catatan Juang bisa aku sebut sebagai catatan ajaib untuk seorang tokoh utamanya. Catatan yang turut andil dalam mengubah pola pikir, dan seolah-olah mengerti apa yang sedang dirasakan dan dialami oleh tokoh utamanya. Ada pesan, motivasi, dan inspirasi yang bisa membuat tokoh utamanya berpikir, merenung, kemudian bangkit untuk memperbaiki apa yang menurutnya kacau.

Kita seringkali melihat, namun tidak menyimak; mendengar, namun tidak memperhatikan; mangabadikan, namun tidak menikmati. Padahal, sebuah kenangan akan tercipta jika kita hadir secara utuh tanpa sibuk memikirkan akan posting foto dan video keindahan apa di media sosial. - (halaman 74-75)

Komitmen berarti komunikasi. Komitmen berarti mementingkan satu sama lain di atas ego kita sendiri. Komitmen berarti mengikat dua orang yang memiliki masa lalu berbeda untuk visi dan misi yang sama. - (halaman 84)

Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren di hadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan di media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang lain mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah. - (halaman 198)

Mengejar bayangan memaksamu mengempaskan seseorang yang memelukmu erat. atas nama "khilaf", kau korbankan segala cerita yang pernah terjalin dengan seseorang yang menyayangimu. Lantas, saat ketahuan, kau meminta maaf sejadi-jadinya. Kalau tidak ketahuan, tidak minta maaf? Kadang, kita terlalu dungu untuk melihat bahwa kebahagiaan sesungguhnya sudah ada dalam genggaman. Kadang, kita memilih untuk melemparkan apa yang sudah kita genggam demi menggapai nafsu sesaat. Jangan lupa, bayangan hanya hadir di kala terang. Dan akan hilang di kala gelap. Namun, seseorang yang menyayangimu takkan pernah pergi segelap apa pun harimu. - (halaman 248)

 4. Arah Langkah


Berbeda dengan buku sebelumnya, Arah Langkah menceritakan bagaimana perjalanan Bung Fiersa ketika berkelana. Membaca buku ini membuatku seolah ikut menyusuri indahnya Nusantara, dengan berbagai daya tarik dan kearifan lokalnya. Di dalam buku ini Bung menceritakan pengalaman-pengalaman seru ketika betualang bersama dua sahabatnya. Di awal cerita, Bung menyisipkan kisah cinta dengan masa lalunya yang sungguh drama, tapi ternyata benar adanya, yang akhirnya membuat Bung memutuskan untuk berkelana.

Cinta memang buta aksara, maka dari itu, butuh komitmen dua anak manusia yang menjadikannya mengeja. - (halaman 32)

Beberapa pertemuan singkat memang diciptakan untuk lama melekat di dalam hati. Beberapa rindu memang diharuskan terasa bahkan sebelum berai. - (halaman 66)

Ketika tinta pengkhianatan tumpah di atas aksara kisah, tulisan tentang kau dan aku tak lagi bisa terbaca. Tak pernah lagi bisa. - (halaman 69)

... hidup ini menyenangkan kalau kita lihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit kalau kita terlalu tinggi berharap. - (halaman 207)

Karena perpisahan, semanis apa pun,  seindah apa pun, tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan. - (halaman 292)

5. 11:11


Sama seperti judulnya, buku ini mulai beredar di pasaran pada tanggal 11 bulan 11 (November) dengan 11 cerita di dalamnya. Sama juga seperti Konspirasi Alam Semesta, ini adalah albuk (album buku) kedua dari Fiersa Besari. Bedanya, bagian-bagian dalam albuk kedua ini tidak saling berkaitan. Satu bagian, satu cerita. Kalau bahasa umumnya, mungkin bisa disebut sebagai kumpulan cerpen. 

Ada dua bagian yang pesan tersiratnya sangat menarik menurutku:
Home adalah bagian yang paling aku suka. Sekeras apa pun bekerja, segiat apa pun berusaha, uang dan keluarga tidak akan pernah bisa sejajar. Uang masih bisa dicari, tapi waktu bersama keluarga adalah bahagia yang tak bisa ditukar dengan barang semahal apa pun. Kalau kata cerita zaman dulu: Harta yang paling berharga...adalah keluarga...~ *autonyanyi :D

Lainnya yang aku suka adalah Melangkah Tanpamu. Terkadang, masa lalu ada bukan untuk dilupakan, tapi memang untuk menjadi kenangan. Setelah apa dan dengan siapa pernah mengukir kisah dalam hidup ini, pasti akan ada satu orang yang benar-benar berarti dan sulit menghilang dari ingatan.
Kata penulisnya disampul belakang buku ini: "Orang bilang, jodoh takkan ke mana. Aku rasa mereka keliru. Jodoh akan kemana-mana terlebih dahulu sebelum akhirnya menetap. Ketika waktunya telah tiba, ketika segala rasa sudah tidak bisa lagi dilawan, yang bisa kita lakukan hanyalah merangkul tanpa perlu banyak kompromi."

--------------------------------------------------------------------------------
Baru kali ini aku mengidolakan penulis sampai sebegitunya. Tapi bukan hanya tulisan Bung Fiersa yang membuatku jatuh cinta. Aku mengagumi pemikirannya, tulisannya, musiknya, fotografinya, jurnalnya. Menurutku, dia seperti paket lengkap. Karena apa yang menjadi objek menarik buatku, ada di Fiersa Besari semua: buku/tulisan, musik, dan fotografi.
Bersyukur, mimpiku untuk bisa bertemu, mendengarkan cerita dan suaranya ketika bernyanyi secara langsung, menyapa, dan berdiri di sebelahnya, akhirnya tercapai di 19 September 2018.

Bung Fiersa sedang bercerita.
Bung Fiersa sedang menyanyikan lagu Kala.
Akhirnya, berhasil "nodong" tanda tangan.
Dan bertemu (sebagian) Kerabat Kerja.
*kawan-kawan Bung Fiersa dalam bermusik*

Minggu, 09 Desember 2018

Pencarian Skincare

Desember 09, 2018 0 Comments
picture from google

Hai, sisters! Aku pengen cerita aja nih gimana pengalaman aku sampai akhirnya bisa ketemu produk skincare yang cocok sama kulit aku. Aku bukan beauty blogger, apalagi pakar kecantikan. Sampai saat ini, aku belum pernah ke dokter/klinik kecantikan mana pun. Disini aku cuma mau berbagi cerita aja gimana akhirnya bisa ketemu skincare yang cocok dengan cara otodidak. Disclaimer: semua yang aku tulis disini berdasarkan pengalaman pribadi aku ya, sama sekali nggak bermaksud untuk menjatuhkan produk atau brand mana pun. Apa yang cocok di kulit aku belum tentu cocok di kulit kalian. Begitu juga sebaliknya. Karena setiap orang punya jenis dan sensitifitas kulit yang berbeda-beda.

Pencarian skincare bermula pas aku SMA. Maklum lah ya namanya abege kan, kalo ngelihat temennya bening dikit tu rasanya iri dan pengen bisa kek dia juga. Dulu kulit aku tu kusam banget, dekil dah, tapi untungnya nggak jerawatan karena emang kebetulan kulitku termasuk jenis kulit yang cenderung kering. Kalopun jerawatan ya karena hormonal, pas mau atau lagi "dapet". Jadilah akhirnya nanya sana-sini ke temen-temen aku yang menurutku bersih dan bening lah mukanya. Muka yang nggak ada masalah gitu deh kira-kira. Ada yang nyaranin buat pake ini pake itu, terus ada juga temenku yang ke dokter/klinik kecantikan gitu.

Dalam hati pengen gitu ya ikut-ikutan ke dokter/klinik kecantikan biar aku beningan dikit. Terus pas bilang ke mama aku, katanya "Nggak usah. Kulitmu tu nggak kenapa-napa. Nanti malah jadi rusak kalo aneh-aneh ke dokter/klinik kecantikan segala.". Karena kalo mau ke dokter/klinik kecantikan juga duitnya kudu minta ke mama aku, jadi yaudah lah ya nurut aja. Dan mauku emang nggak yang kudu (tiba-tiba) jadi putih mukanya, tapi yang penting bersih dulu, putih itu efek samping yang positif atau semacem bonus lah.

Nah, selama masa pencarian itu, berikut produk-produk yang pernah aku coba.

1. Sariayu
picture from google

Kenapa Sariayu? Karena mama aku yang menyarankan. Katanya dari dulu mama aku cocok banget pakai Sariayu. Kalau mamanya cocok, biasanya anaknya juga cocok. Jadi yaudah lah aku nurut aja nyoba pakai Sariayu. Pernah nyobain facial wash-nya yang putih langsat, pelembab sama penyegar yang varian mawar, sama pernah juga nyobain pembersih White Aromatic yang warna hijau (kemasannya kek botol pipih gitu). Dulu aku belum ngerti cocok atau nggak cocoknya sama skincare itu kek gimana. Nggak tau kenapa, abis pakai pelembabnya, kulitku kek berasa berair, keringetan gitu. Waktu itu aku mikirnya mungkin emang cuacanya lagi panas aja. Aku lanjutin pakai itu. Setelah beberapa waktu gitu, aku berasa tetep aja keringetan padahal cuacanya biasa aja, nggak lagi panas juga. Masih positive thinking tuh, mungkin karena Sariayu ini bahan dasarnya banyakan mengandung air. Masih aku lanjutin pakai. Tapi lama-lama aku jadi berasa nggak nyaman. Yakali tiap pakai itu keringetan, padahal kalo mama aku yang pakai tu biasa aja, nggak yang sebasah kek kalo aku yang pakai. Kalau buat facial wash sama pembersih white aromatic-nya kayaknya nggak ada masalah, tapi nggak memperlihatkan efek apa-apa juga di kulit aku. Jadi aku memutuskan untuk mencoba produk dari brand lain, kali aja cocok yekan.


2. Biore
picture from google

Kalo nggak salah inget, ini facial wash yang aku coba setelah ngerasa nggak cocok sama Sariayu. Pas pakai ini rasanya ya seger gitu, berasa bersih. Nggak berasa perih, iritasi atau yang gimana-gimana. Setahu aku, waktu itu biore baru ada facial wash aja buat produk skincare-nya. Atau aku yang belum nemu ya? Nggak tau deh. Tapi yang aku pakai ya cuma ini. Lupa sih varian yang mana, kalo nggak salah sih pernah nyoba yang abu-abu. Cukup lama aku pakai itu, beberapa bulan lah. Dalam beberapa bulan pemakaian, baru ngeh kok kek nggak ada perubahan apa-apa di kulit aku. Kek sama aja sama sebelum pakai ini. Akhirnya aku coba beralih ke yang lain, yang (katanya) emang buat kulit yang masih usia-usia remaja gitu. Lalu iseng lah nyoba Clean & Clear.


3. Clean & Clear
picture from google

Ada temen aku yang cocok pakai ini. Jadilah aku nyoba juga. Aku lupa waktu itu nyoba pakai yang varian/series mana. Udah dari zaman SMA soalnya, udah lama banget. Waktu itu aku pede banget dan langsung beli facial wash, toner, sama moisturizer nya. Pas pertama pakai, rasanya kek agak panas gitu. Aku pikir kan mungkin karena kulitku masih butuh adaptasi kali ya. Jadinya yaudah aku terusin aja. Sampai kemudian kurang lebih semingguan pakai ini, pas bercermin gitu aku perhatiin kok ada yang nggak beres sama kulit aku. Jadi kek ada kerutan dan perih, kek kebakar gitu. Akhirnya yaudah aku stop pemakaian daripada kenapa-napa. Dan daripada produknya kebuang percuma, akhirnya ku kasih ke temen aku yang emang cocok pakai Clean & Clear. Dan aku kembali lagi ke biore karena nggak tau mau ganti apa, dan ngerasa aman aja pakai Biore ya meskipun nggak ngefek apa-apa juga di kulit aku.


4. Garnier
picture from google

Keluarlah produk baru, Garnier. Dulu waktu awal banget, setahu aku Garnier baru ada facial wash yang lemon, kemasannya warna kuning tapi aku lupa detail keterangan yang ada di kemasannya gimana. Judul detail produknya apaan aku lupa. Karena dulu nyarinya yang ada kek semacem whitening atau brightening-nya gitu, dan nggak begitu ngeh sama jenis kulit sendiri, jadi aku beli lah. Penasaran. Pas lagi cuci muka pakai itu rasanya enak banget sis, seger gitu, aromanya lemon dan aku suka banget. Tapi setelah beberapa saat cuci muka, jadi kek berasa kering. Bukan berasa sih, ya emang kering. Di sekitar bibirku tu jadi kek putih-putih gitu loh, kek pucet gitu. Jadi aku harus balik lagi buat membasuh muka ini pakai air. Air aja. Ribet yekan abis cuci muka kudu basuh pakai air lagi. Tapi begonya masih aja aku lanjutin, sampai setengah. Ya iya, sayang udah kebeli masak nggak kepakai. Wkwk bodoh.


5. Pond's White Beauty
picture from google

Lelah dengan kulit yang semakin kering setelah pakai Garnier, kemudian beralihlah aku ke Pond's yang White Beauty Series. Waktu itu entah kenapa pengen yang ada whitening-nya. Biar sekalian, jadi bersih terus rada putihan juga gitu. Haha. Awalnya aku baru nyoba facial wash sama day cream-nya. Seminggu kemudian, karena katanya kalo pengen hasilnya maksimal itu kudu pakai satu rangkaian, jadinya aku beli pelengkapnya: cleanser, toner, sama night cream-nya. Aku pakai Pond's White Beauty Series ini cukup lama. Ada kali ya setahunan lebih. Sampai suatu ketika aku baru merhatiin, kalau pas lagi keringetan gitu ternyata ada spot yang tiba-tiba jadi kelihatan putih banget. Jadi kek day cream-nya itu berasa nggak bisa nyatu sama kulit. Nggak mau menyerap ke kulit gitu. Terus aku tanya kan tuh ke temen aku, kenapa ya kalau pakai day cream-nya tu kek nggak bisa nyatu ke kulit, berasa berat dan berasa banget kalau pakai day cream. Dia bilang, bisa jadi itu karena kulitku nggak cocok sama produknya. Terus aku mikir, masak iya? Soalnya kan aku udah pakai itu lama banget.


6. Wardah Lightening Series
picture from google

Setelah aku mendengar ada brand Wardah, aku browsing nyari-nyari dulu di internet sebelum beli. Dengan segala ke-soktahu-an ku, akhirnya aku memutuskan untuk beralih dari Pond's White Beauty ke Wardah Lightening Series, dengan alasan ya itu tadi: kalo cream-nya nggak bisa nyatu sama kulit, bisa jadi itu karena nggak cocok. Pas mau beli, aku baru tahu kalau ternyata ada step 1 sama step 2. Karena baru mau pakai, logikanya berarti aku harus mulai dari step 1 dulu dong. Seperti biasa, yang pertama kali aku beli pasti facial wash-nya. Abis itu aku beli day cream sama night cream-nya. Lagi-lagi, karena aku percaya kalo mau hasil maksimal harus pakai satu rangkaian, jadi aku nyicil beli sampai dapet satu rangkaian: facial wash, day cream, night cream, cleanser, toner,  facial scrub, facial mask, facial serum. Tapi aku merasa ada something wrong sama night cream-nya. Pas bangun tidur paginya gitu di sekitar area mataku berasa agak panas.
Kebetulan pas itu aku punya kontak BBM salah satu entah agen entah distributor entah konsultan atau apanya Wardah, aku dapet dari ig kalo nggak salah (sekarang udah ilang kontaknya, udah nggak main BBM lagi soalnya). Terus aku tanya kenapa bisa gitu. Katanya kalo pakai night cream itu tipis-tipis aja, hindari daerah sekitar mata dan membran mukosa lainnya. Sebenernya (kalo nggak salah) itu tertulis di belakang kemasannya. Tapi emang dasarnya mikirnya biar putihnya rata gitu, jadi kelopak mata pun aku kasih. Wkwk sok tahu, bodoh. Ya sudah, aku turuti apa kata mbaknya. Beneran dong, abis gitu mata aku tidak kenapa-napa. Hahaha sumpah kocak bat.

Lalu, aku baru kepikiran buat nanya ke mbaknya, sebenernya kulitku ini jenis kulit apa: normal, berminyak, kering, apa kombinasi? Padahal udah pakai facial wash, day cream, sama night cream-nya berbulan-bulan. Hahaha duduls. Curhat lah aku ke mbaknya, aku ceritain apa yang aku rasakan dengan kulit mukaku selama ini. Kata mbaknya, kulitku termasuk jenis kulit normal cenderung kering. Terus disaranin pakai yang Wardah Hydrating Series. Tapi karena aku udah nyaman dan berasa cocok pakai Wardah Lightening Series, jadi aku bilang lah ke mbaknya, dan muncul pertanyaan selanjutnya: Kapan aku bisa naik ke step 2? Aku tanya lagi lah ke mbaknya. Katanya bisa naik ke step 2 dalam interval kurang lebih setelah 6 bulan sampai dengan 1 tahun pemakaian step 1.
Akhirnya setelah setahun pemakaian, aku putuskan untuk naik ke step 2. Beli rangkaian step 2 nya juga nggak langsung semuanya. Kalo produk dari step 1 masih ada, ya aku abisin dulu sembari nyicil beli yang step 2. Alhamdulillah aman sis. Dan aku lanjutkan pakai step 2 sampai hampir dua tahun, sampai masa awal-awal aku masuk kerja.


7. Wardah White Secret Series
picture from google
picture from google

Selama pakai Wardah Lightening Series, terus aku bertanya-tanya nih. Abis step 2, bisa lanjutnya ke series apa ya? Masak udah aja gitu di step 2 seterusnya? Suatu hari pas aku ke drugstore gitu, aku iseng nanya ke mbak yang jaga counter Wardah-nya. Katanya kalo mau next step ya paling ke White Secret Series. Pulang dari situ, aku pikir-pikir. Ganti ke White Secret nggak ya? Tapi kok mahal :( . Pas itu emang aku masih mikir, karena kalo mau beli serangkaian sekaligus, mahal belum ada duit. Jadi aku putuskan buat beli White Secret Series yang facial wash sama cleanser-nya dulu. Alhamdulillah langsung jatuh cinta. Sukak! Akhirnya pas udah gajian aku beli pelengkapnya: toner, day cream, night cream, essense (yang buat malam sebelum pakai night cream). Sampai akhirnya aku tahu ada produk pelengkapnya yang lain, jadi lah sekarang lengkap aku pakai satu rangkaian White Secret Series, plus tambahan pakai Emina Face Toner sama Wardah Hydrating Aloe Vera gel.

Jadi, kesimpulannya daily skincare aku sekarang :

Pagi:
1. Pure Brightening Cleanser
2. Facial Wash with Natural AHA
3. Double the Moist Face Toner (Emina)
4. Pure Treatment Essence
5. Hydrating Aloe Vera Gel
6. Day Cream SPF 35, PA+++
Baru lanjut pakai make-up.

Malam:
1. Pure Brightening Cleanser
2. Facial Wash with Natural AHA
3. Double the Moist Face Toner (Emina)
4. Exfoliating Lotion (opsional: 1x seminggu)
5. Exfoliating Scrub (opsional: 1x seminggu)
6. Intense Brightening Essence
7. Night Cream

*Skincare Tambahan + Lipcare:
1. Emina Green Tea Latte Face Mask
2. Sheet Mask (dari brand apa pun)
3. Innisfree Jeju Volcanic Color Clay Mask
4. Nature Republic Aloe Vera 92% Shooting Gel Mist
5. Evian Natural Mineral Water Facial Spray
6. Wardah Acnederm Acne Spot Treatment Gel
7. Biore Pore Pack
8. Laneige Lip Sleeping Mask

Sekian cerita tentang skincare kali ini. Intinya, aku learning by doing aja sampai akhirnya nemu yang cocok. Semoga bermanfaat, ya, sisters. :)

Kamis, 06 Desember 2018

Sesi Curhat #4

Desember 06, 2018 0 Comments
picture from Google

Bicara soal menikah dan pernikahan emang nggak ada abisnya. Apalagi di umur angkatan gue yang emang udah mulai banyak yang sebar undangan. Setiap kali gue share atau repost bacaan yang berkaitan sama pernikahan, pasti ada pertanyaan/pernyataan :
"jadi kapan nikahnya?"
atau
"wah kayaknya udah siap nih?"
atau
"jangan lupa undangannya ya."

Btw makasih atas doa dan motivasinya, ya. Tapi sejujurnya, makin kesini gue jadi makin woles. Se-dikasihnya Allah SWT aja waktunya kapan dan sama siapa. Daripada baper dan capek mikirin nikah mulu yekan? Gue dulu pernah menargetkan mau nikah umur berapa. Tapi ternyata target gue emang perlu direvisi dan nunggu "persetujuan" dari Allah SWT. Manusia bisa berencana, tapi ketetapan terindah itu dari-Nya.

Gue jadi makin woles kapan nikahnya dan sama siapanya, karena seiring berjalannya waktu gue sadar kalau segala hal itu ada waktunya, ada waktu yang tepat. Dan gue semakin sadar kalau pernikahan itu bukan hal yang main-main. Sebelum memutuskan menikah, gue harus pastiin dulu kalau gue-nya sreg dan orang tua merestui. Kalau gue sreg tapi orang tua nggak merestui, ya gue nggak berani lanjut ke pernikahan. Kalau orang tua gue merestui tapi gue-nya nggak sreg, ya gue pikir-pikir dulu. Karena yang akan hidup seterusnya sama dia itu gue, bukan orang tua gue. Gue akan jadi tanggung jawabnya dia. Kalau gue-nya udah nggak sreg duluan, takutnya pas udah nikah nanti malah gue jadi beban buat dia dan nggak mau mengindahkan nasihat dia gitu.

Pernikahan itu bukan "ajang pelarian" yang katanya pengen bahagia selamanya sama seseorang yang disayang, yang capek sama kuliah/sekolah terus katanya mau nikah aja biar bahagia. Kata orang tua gue, kehidupan setelah menikah itu lebih kompleks. Tanggung jawabnya lebih banyak karena yang dipikirin nggak cuma soal diri sendiri.

Bagi seorang laki-laki, siap menikah berarti siap untuk mengambil alih tanggung jawab ayah si perempuan yang dinikahinya. Sandang, pangan, papan. Gimana dulunya si ayah itu membesarkan putrinya, mencukupi kebutuhan putrinya, berjuang demi kebahagiaan putrinya, itu semua akan berpindah dan menjadi tanggung jawab suami dari anak perempuannya.

Jadi, yang udah siap nikah dan udah ketemu waktunya, ya menikahlah. Yang masih pengen melanjutkan hidup sendiri, lanjutkanlah. Itu pilihan. Setiap orang, setiap pasangan, punya ceritanya masing-masing.
Setiap pasangan pasti punya konflik. Beda-beda. Bahagia atau enggaknya, capek atau enggaknya, semua tergantung gimana cara pasangan itu menyikapi, berdiskusi, dan menjalankan solusi.