Mediakita menerbitkan buku pertama karya Fiersa Besari, Garis Waktu. Garis Waktu mulanya merupakan kumpulan tulisan yang terpecah dan tersebar di media sosial Bung Fiersa selama beberapa tahun silam, yang kemudian dikumpulkan kembali dan dibukukan. Banyak pesan menarik, pesan-pesan baik yang ada dalam buku ini. Aku jatuh cinta pada diksi yang Bung tuliskan. Menginspirasi, memainkan emosi. Rasanya semua pesan yang tertulis di buku ini penting, sampai aku tak bisa memilih mana satu pesan yang paling aku suka. Semuanya bagus. Mengagumkan. Baru membaca sepenggal tulisan yang ada di sampul belakang buku ini saja aku sudah tertarik.
--------------------
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang
mengubah hidupmu untuk selamanya.
akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang
mengubah hidupmu untuk selamanya.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan
pegangan.
akan ada saatnya kau terluka dan kehilangan
pegangan.
Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju,
akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada
titik-titik kenangan tertentu.
akan ada saatnya kau ingin melompat mundur pada
titik-titik kenangan tertentu.
Maka, ikhlaskan saja kalau begitu.
Karena sesungguhnya, yang lebih menyakitkan dari
melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu
yang menyakitimu secara perlahan.
melepaskan sesuatu adalah berpegangan pada sesuatu
yang menyakitimu secara perlahan.
--------------------
Begitulah yang Fiersa Besari tuliskan pada sampul belakang buku pertamanya ini.
Pada suatu wawancara, Bung pernah mengatakan,
"Berkarya itu bukan dimulai dengan kita pengen kelihatan bagus depan orang lain. Tapi kita pengen menuangkan sesuatu untuk diri kita sendiri dulu aja gitu."
Dan (menurutku) Bung Fiersa membuktikan dan melakukan itu. Tulisan yang awalnya hanya kalimat pendek yang terpecah-pecah di media sosial, yang Bung tulis karena ingin menulis untuk dirinya sendiri, diminati oleh orang-orang di dunia maya, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati para pembaca.
Ada satu kalimat penutup di salah satu chapter-nya yang begitu manis, yang mengingatkan kita untuk tidak perlu bersedih terlalu lama. Akan ada hal indah yang menghampiri setelah kita terpuruk. Pesan itu ada di Garis Waktu.
Pada suatu wawancara, Bung pernah mengatakan,
"Berkarya itu bukan dimulai dengan kita pengen kelihatan bagus depan orang lain. Tapi kita pengen menuangkan sesuatu untuk diri kita sendiri dulu aja gitu."
Dan (menurutku) Bung Fiersa membuktikan dan melakukan itu. Tulisan yang awalnya hanya kalimat pendek yang terpecah-pecah di media sosial, yang Bung tulis karena ingin menulis untuk dirinya sendiri, diminati oleh orang-orang di dunia maya, sampai akhirnya menjadi sebuah buku yang dapat dinikmati para pembaca.
Ada satu kalimat penutup di salah satu chapter-nya yang begitu manis, yang mengingatkan kita untuk tidak perlu bersedih terlalu lama. Akan ada hal indah yang menghampiri setelah kita terpuruk. Pesan itu ada di Garis Waktu.
"Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamanmu
saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong
dan digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu."
saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong
dan digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu."
- Fiersa Besari -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar