Long Distance Marriage (LDM) atau hubungan jarak jauh pada pernikahan. Si suami di kota mana, si istri di mana. Sebuah hubungan yang (katanya) kurang atau bahkan tidak ideal. Mungkin sebagian besar orang kurang berkenan, tapi mungkin juga banyak yang tetap berjuang untuk hubungan semacam ini. Pasti banyak pendapat, banyak pandangan. Apa pendapat mereka tentang LDM? Ada beragam pendapat yang pernah aku baca dan aku dengar. Ada yang bilang kira-kira seperti ini:
Gak kuat.
atau
Karena yang jarang bertemu, lebih banyak menyimpan rindu.
atau
Big NO for me!
atau
Selama itu sementara dan ada kemungkinan untuk bersatu (dalam satu atap) dalam waktu dekat, it's bearable.
atau
Sejujurnya aku ragu untuk menjalankan LDM. Kalau dilihat dari luar sepertinya susah. Mungkin LDR dan LDM akan berbeda rasanya, rindunya, cost-nya, dan sedihnya. Tapi kalau masih bisa dijangkau dan hanya sebentar (at least sekitar satu sampai dua tahun) it's OK.
atau
Yakali udah nikah, berumah tangga tapi jauh-jauhan. Nanti anakku gimana? Pasti gak keurus.
atau
Kalau kita dan suami emang enjoy buat LDM sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, terus ada yang bilang "kasihan anaknya", lah kan kita yang ngejalanin.
atau
Halah udah nikah tapi jauh-jauhan itu ngabisin duit doang.
atau
Nikah tapi jauh-jauhan itu susah.
dan pendapat-pendapat lain yang serupa.
Lalu apa pendapatku tentang ini?
Aku sebenernya netral netral memihak sih wkwkw enggak ding bercanda. Kalau aku sih mencoba untuk memandangnya dari perspektif yang lebih luas. Open minded aja. Nggak semua yang hidup dalam satu atap itu pasti menyenangkan dan nggak semua LDM akan berakhir menyedihkan. Aku menghargai pendapat orang yang mengatakan LDM itu susah, atau LDM itu tidak susah. Semua tergantung yang menjalani hubungan itu. Kebetulan aku berada di lingkungan yang kehidupan rumah tangga orang-orangnya beragam. Mereka yang serumah dan mereka yang LDM. Ada beberapa yang awalnya LDR kemudian memutuskan untuk menikah dan menjalani LDM beda pulau. Ada yang semasa mudanya dulu menjalani LDM beda pulau, sampai akhirnya disatukan dalam satu rumah dan tetap utuh sampai punya anak cucu. Ada yang si suami dimana, si istri dimana, si anak dimana, beda kota semua. Ketemunya paling kalau pas libur. Ada yang si suami kerja dimana, si istri kerja dimana, kemudian anaknya di daycare atau sama baby sitter. Banyak. Ada yang si suami aja yang kerja/cari nafkah, si istri di rumah. Ya itu pilihan sih. Dan mereka tetap baik-baik saja. Gimana cara mereka untuk menjalani dan berjuang, ya kita nggak tahu. Itu cerita rumah tangga masing-masing pasangan.
Sama aja kayak: istri kerja (kantoran) atau enggak?
Memang (katanya) istri sebaiknya lebih fokus untuk mengurus rumah, suami, dan anak. Cukup suami yang kerja cari nafkah karena ya memang berkewajiban untuk menafkahi. Pernah suatu ketika aku mendengar ada yang bilang:
Kok rasanya sedih melihat ibu yang memilih menitipkan anaknya di tempat penitipan anak, demi kerja dan mengumpulkan pundi-pundi Rupiah. Kok tega ninggalin anaknya demi cari uang dari pagi sampai sore bahkan kadang-kadang sampai malam.
Lalu apa pendapatku tentang istri kerja (kantoran) atau enggak?
Jujur sebenernya aku sedih mendengar itu. Tapi aku juga tidak menyalahkan mereka yang berpendapat seperti itu. Menurutku, istri kerja (kantoran) atau nggak sih nggak ada yang salah. Kalau si suami tidak mengizinkan istri ngantor dan si istri menerima itu, ya silahkan. Kalau si suami ingin istrinya nggak ngantor tapi si istri maunya ngantor buat bantu-bantu untuk mencukupi kebutuhan, ya kompromikan. Kalau si suami sama sekali tidak keberatan istrinya ngantor, ya nggak ada salahnya kalau bikin kesepakatan untuk urusan rumah. Jadi ya tergantung gimana berdiskusi dan bersepakatnya aja. Ya memang perlu pengorbanan dan saling pengertian.
Menurutku, sebaiknya kita tidak "memvonis" orang lain dengan ukuran atau standar yang (katanya) ideal di mata banyak orang. Sebenernya standar ideal itu apa? Apakah ketika dipandang ideal lantas tidak akan ada masalah? Setiap orang punya tipe idealnya masing-masing. Setiap manusia punya track-nya masing-masing. Pun setiap pasangan punya cerita dan cara masing-masing. Allah SWT punya skenario unik untuk setiap manusia. Kalau niatnya mau kasih nasihat demi kebaikan yang bersangkutan, sampaikan dengan bahasa yang enak didengar, enak dibaca. Jangan men-judge karena berpikir pendapat kita yang paling benar. Silahkan memberi masukan. Kalau urusan pilihan, kembali lagi ke yang menjalankan. Semua itu tentang pilihan. Setiap pilihan akan ada konsekuensinya.
Sama aja kayak: istri kerja (kantoran) atau enggak?
Memang (katanya) istri sebaiknya lebih fokus untuk mengurus rumah, suami, dan anak. Cukup suami yang kerja cari nafkah karena ya memang berkewajiban untuk menafkahi. Pernah suatu ketika aku mendengar ada yang bilang:
Kok rasanya sedih melihat ibu yang memilih menitipkan anaknya di tempat penitipan anak, demi kerja dan mengumpulkan pundi-pundi Rupiah. Kok tega ninggalin anaknya demi cari uang dari pagi sampai sore bahkan kadang-kadang sampai malam.
Lalu apa pendapatku tentang istri kerja (kantoran) atau enggak?
Jujur sebenernya aku sedih mendengar itu. Tapi aku juga tidak menyalahkan mereka yang berpendapat seperti itu. Menurutku, istri kerja (kantoran) atau nggak sih nggak ada yang salah. Kalau si suami tidak mengizinkan istri ngantor dan si istri menerima itu, ya silahkan. Kalau si suami ingin istrinya nggak ngantor tapi si istri maunya ngantor buat bantu-bantu untuk mencukupi kebutuhan, ya kompromikan. Kalau si suami sama sekali tidak keberatan istrinya ngantor, ya nggak ada salahnya kalau bikin kesepakatan untuk urusan rumah. Jadi ya tergantung gimana berdiskusi dan bersepakatnya aja. Ya memang perlu pengorbanan dan saling pengertian.
Menurutku, sebaiknya kita tidak "memvonis" orang lain dengan ukuran atau standar yang (katanya) ideal di mata banyak orang. Sebenernya standar ideal itu apa? Apakah ketika dipandang ideal lantas tidak akan ada masalah? Setiap orang punya tipe idealnya masing-masing. Setiap manusia punya track-nya masing-masing. Pun setiap pasangan punya cerita dan cara masing-masing. Allah SWT punya skenario unik untuk setiap manusia. Kalau niatnya mau kasih nasihat demi kebaikan yang bersangkutan, sampaikan dengan bahasa yang enak didengar, enak dibaca. Jangan men-judge karena berpikir pendapat kita yang paling benar. Silahkan memberi masukan. Kalau urusan pilihan, kembali lagi ke yang menjalankan. Semua itu tentang pilihan. Setiap pilihan akan ada konsekuensinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar