Kamis, 17 Mei 2018

Ramadhan di Perantauan


Sudah bukan hal baru lagi mengawali Ramadhan tidak di kampung halaman. Merasakan atmosfer bulan suci di tanah perantauan, sendirian. Sahur dan berbuka tanpa keluarga. Belajar mengatur waktu untuk menyiapkan semuanya sendiri. Mandiri. Tepatnya lima tahun yang lalu aku memulainya. Ketika aku harus melanjutkan pendidikan ke luar kota. Tiga tahun pertama, aku menjalankan ibadah Ramadhan bersama teman-teman kuliah. Bangun lebih awal untuk keluar membeli makan sahur. Atau kalau tidak ingin bangun lebih awal, selepas tarawih pergi ke warung untuk membeli makan sahur. Ngabuburit dihabiskan dengan cara berjalan di sepanjang gang depan kos untuk menentukan makanan mana yg akan dibawa pulang untuk berbuka.
Lulus kuliah, ku kira akan bisa kembali mengawali Ramadhan bersama keluarga di rumah. Tapi rupanya perantauan masih berpihak padaku. Jakarta. Ya, tepatnya Jakarta Pusat yg menawarkanku suasana bulan suci Ramadhan yg sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Ngabuburit tak lagi di sepanjang gang depan kos, tapi di sepanjang jalan penuh suara klakson. Baru sebentar menginjakkan kaki di kamar kos, tau-tau sudah adzan maghrib. Dan sepertinya aku akan "bersahabat" dengan riuhnya suara klakson dari kendaraan yg saling berdempetan itu dalam waktu yg cukup lama. Jakarta telah "mengajakku" menetap.
Aku bukan bersedih. Tidak. Aku hanya rindu mengawali dan menjalankan ibadah Ramadhan ini di rumah bersama mama, bapak, dua adikku, dan teman-temanku semasa kecil sampai remaja dulu. But, thanks semesta, kau memberiku banyak pengalaman.

Selamat menjalankan ibadah puasa, teman-teman! Semoga lancar :)

Tidak ada komentar: