Gala Event Pernikahan Impian 2
Ahad, 14 Januari 2018 | Smesco Jakarta
Narasumber : Amrul & Gia , Muzammil & Sonia
Pernikahan bukan untuk menghentikan impian.
Penting membentuk tim untuk rumah tangga, dengan peran masing-masing. Saling support, misalnya support finansial dan mental dari pihak laki-laki. Saling mengerti impian masing-masing dan impian berdua. Di dalam rumah tangga pun tetap perlu me time.
Pernikahan ideal bukan pernikahan yang tanpa masalah. Tapi pernikahan yang ketika ada masalah, bisa sama-sama mencari bagaimana solusinya. Ambil lah titik tengah dari pendapat masing-masing untuk mengambil keputusan/solusi. Jangan sampai masalah tersebut belum teratasi sampai lebih dari 1x24 jam.
Ketika sudah berniat untuk menikah, maka si calon istri dan si calon suami bersama-sama untuk meyakinkan keluarga. Gimana caranya? Ya diri sendiri yakin dulu kalau memang sudah siap menikah. Jangan klemar-klemer di depan camer.
Sesungguhnya pandangan calon mertua itu: bukan apa yang (calon) menantu sudah punya, tapi apa yang akan (calon) menantu punya nanti setelah menikah.
Persiapan menikah (ibadah seumur hidup):
1. Serius
2. Cukup ilmu
3. Siap mental
4. Siap fisik
Boleh berniat untuk menyegerakan, tapi bukan tergesa-gesa. Menyegerakan itu Allah SWT yang mengatur semuanya, kapan waktu yang tepat. Tergesa-gesa akan lebih banyak potensi masalah yang akan timbul.
Prinsip berumah tangga:
Laki-laki memposisikan diri sebagai pemimpin, sedangkan perempuan memposisikan diri sebagai yang dipimpin sehingga tahu peran masing-masing.
Fitrahnya adalah laki-laki 9 logika 1 perasaan dan perempuan 1 logika 9 perasaan.
Seorang istri wajib menjaga diri dan menjaga harta suami ketika suaminya sedang tidak ada bersamanya. Kemuliaan seorang perempuan (istri) tidak bergantung pada laki-laki (suaminya), tapi bergantung pada dirinya sendiri. Caranya: Jaga sholat. Jaga Ibadah. Taat suami.
Seorang suami menasihati istrinya dengan cara yang baik, bukan dengan memarahinya.
Seorang suami menginginkan ia adalah cinta pertama bagi istrinya, sehingga ia akan cemburu dengan lelaki manapun yang pernah ada di masa lalu istrinya. Sedangkan seorang istri menginginkan ia adalah cinta terakhir bagi suaminya, sehingga ia akan cemburu dengan perempuan manapun yang akan ada di masa depan suaminya.
Perempuan dilihat dari masa lalunya, sedangkan laki-laki yang dilihat adalah masa depannya.
"Jodoh terbaik tidak datang di waktu yang cepat, tapi datang di waktu yang tepat."
Narasumber : Fahd & Rizqa
Pernikahan itu seperti naik roller coaster. Terkadang kita hanya perlu menutup mata dan menikmatinya. Mungkin ada sebelah kita yang berani untuk teriak, tapi kita memilih untuk menikmatinya.
Semakin kita berhasil menghargai dan memahami pasangan kita sebagai manusia, semakin kita tahu bagaimana cara menumbuhkan rasa cintanya. Karena pasangan kita adalah manusia yang memiliki berbagai dimensi.
Jangan terlalu mencintai pasangan kita 100%. Harus ada ruang untuk curiga, untuk (mungkin) kesal, supaya ada ruang untuk bisa tetap menumbuhkan rasa cinta itu.
Mencintai pasangan dengan mencintai hal baik yang ada pada dirinya. Dan mencintai pasangan dengan memaafkan segala hal buruk yang ada pada dirinya.
Ketika ada interventi orang tua terhadap pernikahan (rumah tangga) kita:
Ingat dulu visi pernikahannya apa. Bahagia yang versi bagaimana.
Jadi ketika ada intervensi orang tua, maka orang tua dipandang sebagai pihak ketiga, karena yang menjalani pernikahan adalah kita dan pasangan. Cara berpikirnya sudah bukan lagi tentang mematuhi atau tidak mematuhi orang tua, tapi ada hal yang lebih kompleks dari itu. Dan itu perlu banyak pertimbangan.
Narasumber : Kang Abay
Ada hal-hal yang harus diperhatikan ketika sudah berniat untuk menikah. Apa aja? Yuk simak!
Jangan Salah Niat
Ketika sudah merasa siap untuk menikah, tanyakan dalam hati apakah niatnya sudah benar?
Niat yang perlu diluruskan tetang menikah:
1. Pengen mengakhiri kesendirian.
2. Lelah karena penantian
3. Provokasi dari orang lain
4. Biar status di sosmed-nya ganti dari single jadi menikah wkwk
Miliki Rencana yang Jelas dengan "in sha Allah"
1. Niat
2. Target
3. SIM (Surat Izin Menikah)
4. Cara menjemput jodoh
Ada hal yang harus diperhatikan ketika menjemput jodoh (3M):
- Mempersiapkan hati yang ikhlas dan ridho dengan ketetapan Allah SWT.
- Mencintai dalam ikhlas. Meminta lalu memasrahkan kehendak kita kepada Allah SWT, bukan memaksa Allah SWT untuk mengabulkan kehendak kita.
- Memantaskan diri karena jodoh adalah cerminan diri. Mengapa harus memantaskan diri? Karena menjalankan dan membangun pernikahan tidak semudah yang dipandang banyak orang. Banyak yang hanya sibuk mempersiapkan resepsi tapi lupa untuk mempersiapkan ilmu dan lupa mempersiapkan diri.
Apa itu Cinta Dalam Ikhlas?
Meski masing-masing memiliki kecenderungan hati, tapi tidak boleh menyimpang (dengan ekspektasi "harus dia!")
Apa yang Harus Diikhlaskan?
Kehilangan, Penolakan, Kegagalan, Pengkhianatan, Harapan
Proses mengikhlaskan dengan cara (5B):
- Belajar menerima dan mengikhlaskan semuanya
- Belajar memaafkan (berdoa untuk keikhlasan hati)
- Banyak bertaubat (mungkin kita masih terlalu berharap kepada manusia, bukan kepada Allah SWT)
- Banyak beribadah (karena tidak mungkin kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta)
- Banyak bersyukur
Yang tidak kalah penting dari persiapan untuk menikah adalah persiapan mental dan persiapan ekonomi.
Luruskan mindset yang salah tentang pernikahan
Mindset yang salah:
1. Menikah itu 10% nya enak, 90% nya enak banget
2. Menikah itu mudah
3. Pernikahan itu tak seindah posting-an di sosmed
Luruskan mindset menjadi:
1. Menikah itu banyak indahnya, banyak pula ujiannya. Sikapi dengan sabar dan taqwa.
2. Membangun pernikahan yang in sha Allah berkualitas itu perlu proses yang tidak mudah.
3. Ingatlah bahwa kita menikah dengan orang yang tidak sempurna. Pasangan kita hanyalah manusia biasa yang punya kekurangan/kelemahan.
Persiapan Ekonomi
1. Pelajari ilmu mencari rezeki
2. Mapan > Tampan. Kemapanan bisa dibangun dengan cara berusaha.
Narasumber : Ustadz Salman
"Siapa yang memiliki kemampuan tanggung jawab yang baik, maka menikahlah."
Kemampuan tanggung jawab yang seperti apa?
1. Mampu mengelola finansial dengan baik
2. Mampu mengelola emosi dengan baik
3. Mampu mengelola spiritual dengan baik
4 kriteria yang pantas dinikahi:
1. Cantik/tampan
2. Punya garis keturunan yang baik (dari keluarga baik-baik)
3. Memiliki harta yang cukup
4. Agama yang baik
::: Maka, nikahilah karena baik agamanya.
Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling baik kepada temannya, atasannya, atau orang lain.
Tapi orang yang paling baik adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Baik yang seperti apa?
1. Menyayangi pasangannya
2. Menyayangi anaknya
3. Mau memaafkan kesalahan keluarganya
4. Sering menghibur keluarganya
Narasumber : Meyda Sefira
Setiap pernikahan itu spesial. Ujiannya pun berbeda-beda. Tidak perlu dibandingkan dengan pernikahan (rumah tangga) orang lain.
Menjalin hubungan itu:
1. Saling memahami soal komunikasi gender
2. Harus nyaman. Pujilah pasangan meskipun untuk hal yang sederhana. Jangan pelit pujian. Jangan sampai pasangan malah cari pujian di luar :(
3. Hadirkan pasangan melalui nasihat-nasihat. Libatkan dia, mintalah pendapatnya tentang sesuatu. Saling bertukar pendapat untuk menganbil keputusan.
4. Belajar untuk selalu berterima kasih kepada pasangan. Menikah itu perlu kepekaan yang tinggi. Kata "terima kasih", "tolong" dan "maaf" itu harus ada.
5. Berdoa (dan saling mendoakan) agar pasangan kita mendapat rezeki yang berkah.
Jaga hubungan baik kita dengan keluarga suami, supaya kita juga di-support oleh mereka. Selama perbedaan itu masih sesuai syariat, maka jangan jadikan itu sebagai pertentangan/perdebatan.
Perlakukanlah mertua seperti memperlakukan orang tua kita sendiri.
Di belakang laki-laki yang hebat, pasti ada perempuan yang hebat. Maka tugas seorang istri adalah menghebatkan suaminya.
Narasumber : Ustadz Salman
"Siapa yang memiliki kemampuan tanggung jawab yang baik, maka menikahlah."
Kemampuan tanggung jawab yang seperti apa?
1. Mampu mengelola finansial dengan baik
2. Mampu mengelola emosi dengan baik
3. Mampu mengelola spiritual dengan baik
4 kriteria yang pantas dinikahi:
1. Cantik/tampan
2. Punya garis keturunan yang baik (dari keluarga baik-baik)
3. Memiliki harta yang cukup
4. Agama yang baik
::: Maka, nikahilah karena baik agamanya.
Orang yang paling baik bukanlah orang yang paling baik kepada temannya, atasannya, atau orang lain.
Tapi orang yang paling baik adalah yang paling baik kepada keluarganya.
Baik yang seperti apa?
1. Menyayangi pasangannya
2. Menyayangi anaknya
3. Mau memaafkan kesalahan keluarganya
4. Sering menghibur keluarganya
Narasumber : Meyda Sefira
Setiap pernikahan itu spesial. Ujiannya pun berbeda-beda. Tidak perlu dibandingkan dengan pernikahan (rumah tangga) orang lain.
Menjalin hubungan itu:
1. Saling memahami soal komunikasi gender
2. Harus nyaman. Pujilah pasangan meskipun untuk hal yang sederhana. Jangan pelit pujian. Jangan sampai pasangan malah cari pujian di luar :(
3. Hadirkan pasangan melalui nasihat-nasihat. Libatkan dia, mintalah pendapatnya tentang sesuatu. Saling bertukar pendapat untuk menganbil keputusan.
4. Belajar untuk selalu berterima kasih kepada pasangan. Menikah itu perlu kepekaan yang tinggi. Kata "terima kasih", "tolong" dan "maaf" itu harus ada.
5. Berdoa (dan saling mendoakan) agar pasangan kita mendapat rezeki yang berkah.
Jaga hubungan baik kita dengan keluarga suami, supaya kita juga di-support oleh mereka. Selama perbedaan itu masih sesuai syariat, maka jangan jadikan itu sebagai pertentangan/perdebatan.
Perlakukanlah mertua seperti memperlakukan orang tua kita sendiri.
Di belakang laki-laki yang hebat, pasti ada perempuan yang hebat. Maka tugas seorang istri adalah menghebatkan suaminya.
*Disclaimer: Tulisan ini saya tulis berdasarkan apa yang saya dengar dan serap dari seminar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar